Di saat bangsa Indonesia sibuk lomba balap karung, Iran justru meluncurkan satelit. Fase baru perkembangan sebuah perang dingin
Oleh Musthafa Luthfi *
Tradisi menyambut bulan puasa khususnya di dunia Arab telah berubah terutama sejak maraknya stasion-stasion TV satelit dalam rentang waktu dua dekade belakangan ini yang lebih menonjolkan hiburan-hiburan di layar kaca untuk menunggu waktu sahur.
Tradisi lainnya yang hampir menyeluruh di seluruh dunia Islam adalah meningkatnya kebiasaan komsumtifisme yang terkesan berlebihan. Stasion-stasion TV satelit menjadi sarana iklan besar-besaran bagi produk makanan menjelang bulan Ramadhan tiba.
Karena itu, biasanya sebelum sebelum Ramdhan tiba, bau puasa demikian terasa di negara-negara Arab dengan maraknya iklan-iklan sinetron terbaru menarik yang siap ditayangkan terutama di malam Ramadhan hingga menjelang sahur agar mata siap melek sepanjang malam.
Demikianlah, tradisi yang makin sulit untuk dihilangkan bahkan cenderung makin “meriah” yang menyebabkan tujuan puasa La’allakum Tattaquun (menjadi hamba-hamba yang bertakwa) makin sulit tercapai. Puasa akhirnya tak lebih sebatas menahan lapar dan dahaga.
Menjelang puasa kali ini, ada kejadian penting yang patut dicermati kaum Muslimin terlepas dari mazhab dan aliran yang dianutnya. Sekitar dua pekan menjelang bulan suci tiba, Iran telah menyebarkan dua pesan ganda, pertama ditujukan kepada dunia Barat dan kedua sebagai risalah (pesan) buat kaum Muslimin terutama kalangan pakar dan cendekiawan.
Sekitar pertengahan bulan Sya`ban yang lalu bertepatan dengan bulan Agustus , Iran berhasil menguasai teknologi luar angkasa dengan meluncurkan satelit buatan sendiri. Teknologi ini tidak kalah pentingnya dengan penguasaan teknologi nuklir untuk tujuan damai yang telah dicapai sebelumnya.
Secara kebetulan peluncuran satelit pertama negeri Mullah itu bertepatan dengan hari Minggu, 17 Agustus 2008 yang bertepatan dengan peringatan 63 tahun kemerdekaan RI yang hampir setiap tahun dimeriahkan dengan berbagai acara yang terkesan “hura-hura” yang sudah banyak ditinggalkan negara lain seperti negeri jiran kita, Malaysia.
Pada saat bangsa Indonesia sedang asyik dengan aneka hiburan pesta rakyat seperti upaya pemecahan rekor panjat pinang, lari karung dan “dangdutan”, Iran secara mengejutkan mengumumkan peluncuran satelit pertama sehingga memasukkannya dalam daftar 10 negara produsen satelit di dunia disamping AS, Rusia, sejumlah negara Eropa, China, Jepang dan India .
Meskipun teknologi luar angkasa negeri Persia itu masih tahap pemula dibandingkan negara-negara maju lainnya, namun yang perlu dicatat adalah, keberhasilan tersebut berlangsung pada saat Iran diembargo secara ketat oleh Barat sejak sekitar 30 tahun yang lalu.
Iran saat ini mampu menempatkan satelit di orbit seputar bumi dengan ketinggian sekitar 600 km. Teknologi balastik yang digunakan untuk membawa satelit ke angkasa juga bisa digunakan untuk meluncurkan senjata, namun Teheran menyatakan tidak berencana melakukan hal tersebut.
Meskipun demikian, Iran tidak akan ragu-ragu menggunakan kemampuan balastiknya guna mempertahankan diri atau untuk membalas serangan luar baik dari Israel maupun AS. Komandan Garda Revolusi Iran , Jenderal Ali Ja`fari Rabu (27/8) menegaskan tentang hal tersebut.
“Evaluasi strategi yang kita lakukan mengisyaratkan kemungkinan pemerintah Zionis (Israel ) melakukan serangan sendiri atau dengan bantuan AS. Bila terjadi maka seluruh kawasan terancam sebab Israel tidak memiliki kedalam startegis karena berada dalam jangkauan rudal-rudal Iran ,” paparnya.
Pesan kepada Barat
Pesan pertama kepada Barat bahwa Iran secara jelas telah berhasil melepaskan diri dari berbagai upaya dan belenggu Barat untuk tetap menjadikan negeri Mullah itu sebagai salah satu negara terbelakang di dunia ketiga.
Embargo teknologi secara ketat yang dilakukan Barat akhirnya terbukti tidak mampu menghentikan usaha keras negeri kaya minyak Teluk itu untuk menguasai teknologi super canggih seperti teknologi luar angkasa yang selama ini hanya monopoli negara-negara besar.
Masih teringat pada tahun 80-an dan 90-an abad 20 lalu, ketika Indonesia akhirnya urung menjual sejumlah helikopter produk IPTN saat itu ke Iran atas desakan AS karena dikhawatirkan dimanfaatkan untuk tujuan militer. Negara-negara di dunia yang berada dibawah ketiak Washington pun melakukan embargo serupa.
Segala kesulitan yang dihadapi oleh negeri itu tidak membuatnya putus asa bahkan saat ini berhasil memproduksi pesawat-pesawat tempur dengan jarak jelajah 3 ribu kilo meter non stop tanpa memerlukan pengisian bahan bakar di udara.
Ketika TV Iran menayangkan peluncur roket mutakhir yang dapat membawa satelit ke orbit, nampak para pemimpin Barat dalam keadaan penuh kekhawatiran dan sikap kecewa yang berlebihan. Tidak ada yang tersisa dari Barat untuk mencoba kembali menggoyang negeri Persia itu kecuali dengan memutar kembali kampanye sebelumnya tentang keanggotaan Iran sebagai poros jahat yang mendukung terorisme.
Di lain pihak sebagian kekuatan Eropa terutama Rusia ditambah Cina, Jepang dan India mulai bersikap menerima anggota baru dalam klub nuklir dan teknologi angkasa luar. Karena dengan kemampuan Iran ``berswasembada`` teknologi mutakhir, sudah tidak ada lagi manfaatnya untuk mengganjal negeri itu menguasai teknologi nuklir dan luar angkasa.
Sedangkan pesan kedua adalah ditujukan kepada negara-negara terkemuka di dunia Islam seperti Indonesia , Turki, Mesir , Pakistan dan Saudi Arabia . Pesan ini juga ditujukan kepada dunia ketiga di negara-negara Amerika Latin, Afrika dan Asia .
Negara-negara tersebut sebenarnya dapat bangkit dengan kemampuan kolektif yang mereka miliki selama memiliki political will (kehendak politik) untuk menentukan nasib sendiri. Dunia Islam harus segera melepaskan kendala pisikis dan semangat juang yang lembek selama ini akibat belenggu Barat.
Dunia Islam terutama negara-negara Arab sebenarnya memilki sumber daya manusia (SDM) yang handal di bidang penguasaan teknologi mutakhir. Namun karena situasi politik dalam negeri masing-masing yang tidak kondusif, menyebabkan mereka lebih memilih dunia Barat sebagai tempat mengamalkan kemampuannya sehingga hanya dimanfaatkan untuk kepentingan Barat.
Sudah menjadi rahasia umum sejak lama bahwa lebih dari separo pakar-pakar terkemuka di berbagai bidang sains di dunia Barat berasal dari keturunan negara-negara dunia ketiga. Dalam konteks ini Iran sering menegaskan tekadnya untuk menjadikan kemampuan teknologi yang dimilikinya untuk kepentingan dunia ketiga terutama negara-negara Islam.
Persekutuan baru
Prestasi Iran tersebut yang dibarengi dengan perkembangan penting di kawasan Laut Hitam terutama “unjuk otot” Rusia di Georgia menghadapi AS dan Barat memunculkan wacana persekutuan baru. Bahkan sebagian analis menyebutnya sebagai kembalinya perang dingin dalam bentuk lain.
Seperti dimaklumi rezim Georgia pimpinan Presiden Mikhail Saakashvili adalah antek AS yang berusaha untuk menggabungkan negaranya dengan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa (EU). Dengan demikian konflik di Georgia soal Ossetia Selatan seperti perang antara Rusia dan AS.
Selama dekade terakhir ini pandangan dunia hampir sama bahwa Rusia dibawah Mikhail Gorbachev dan Borris Yeltsin telah berubah menjadi sebuah negara dibawah pengaruh Barat terutama ditinjau secara ekonomis. Namun Presiden Vladimir Putin dan dengan dukungan kuat militer mengembalikan wibawa Rusia sebagai salah satu negara besar yang disegani.
Putin mulai mengembalikan wibawa Rusia dan menjadi salah satu unsur penentu dalam percaturan dunia menghadapi hegemoni AS. Perang Georgia terakhir dan pengakuan Moskow atas kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia makin menunjukkan bahwa Rusia merupakan kekuatan yang dapat mengembalikan wibawa bekas Uni Soviet pada masa perang dingin dulu.
Perkembangan diatas menunjukkan fase baru sebuah perang dingin antara dua kekuatan. Tidak sulit untuk memprediksikan bahwa perang dingin tersebut akan meluas sehingga meliputi kawasan Timur Tengah yang membersitkan isyarat akan kesediaan Moskow untuk membangun persekutuan strategis termasuk dengan bergabungnya Iran dan sebagian negara Arab menghadapi dua sekawan AS-Israel.
Yang masih menjadi pertanyaan apakah ada negara Arab yang menyusul Suriah yang berani mengatakan ``tidak`` kepada Washington dalam kondisi negeri adidaya itu yang sedang lemah. Dan bagi negara Islam lainnya seperti Indonesia apakah harus menunggu dimusuhi AS ``lahir-batin`` (sebab secara batin AS memusuhi dunia Islam) baru bangkit melepaskan diri dari pengaruh AS seperti Iran ??? [www.hidayatullah.com]
Penulis lepas, mantan wartawan ANTARA. Kini sedang bermukim di Yaman
Hidayatullah.com
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 Agustus 2008
Sabtu, 29 Desember 2007
Jejak Bhutto di Tahun 2007
Islamabad (armnews) - Kabar tewasnya Benazir Bhutto sangat mengagetkan dunia. Inilah rentetan peristiwa yang mengiringi langkah perdana menteri perempuan pertama Pakistan itu sebelum akhirnya tewas akibat serangan bom bunuh diri.

- 26 Maret: Protes bersama partai-partai soal pengasingan mantan PM Benazir Bhutto dan Nawaz Sharif
- 3-10 Juli: Militer Pakistan menyerang Masjid Merah yang pro-Taliban di Islamabad yang menewaskan 100 orang
- 20 Juli: Bhutto dan Musharraf mengadakan pertemuan rahasia di Abu Dhabi soal kemungkinan pembagian kekuasaan
- 18 Oktober: Bhutto kembali ke Karachi dari Dubai setelah pengasingannya. 2 serangan bom bunuh diri melanda parade penyambutan Bhutto sejam kemudian, menewaskan 139 orang
- 31 Oktober: Bhutto mengatakan telah mendengar rumor Musharraf akan memberlakukan keadaan darurat dan menunda kunjungan ke Dubai. Bhutto lalu ke Dubai keesokan lainnya.
- 3 November: Musharraf memberlakukan keadaan darurat di Pakistan, membekukan UUD dan menahan tokoh-tokoh oposisi.
- 4 November : Polisi mengacak-acak dan membubarkan kelompok oposisi
- 7 November: Bhutto mengumumkan rencana untuk demonstrasi besar-besaran
- 9 November: Sejam sebelum rencana aksi besar-besaran di Rawalpindi, polisi mengenakan status tahanan rumah pada Bhutto di Islamabad. Belakangan, status tersebut dicabut
- 11 November: Musharraf mengumumkan akan membubarkan parlemen pada 15 November dan akan mengadakan pemilu pada Januari 2008
- 12 November: Bhutto menolak pembagian kekuasaan dengan Musharraf. Dia kembali dikenakan tahanan rumah agar tidak bisa memimpin aksi besar-besaran
- 13 November: Bhutto, untuk pertama kalinya, menyerukan Musharraf untuk mundur dari kursi PM Pakistan dan mengatakan akan tidak akan pernah bersedia bekerja sama dengannya
- 26 November: Bhutto dan Sharif mendaftarkan diri untuk pemilu. Musharraf mengumumkan akan mundur dari militer pada 28 November dan beralih menjadi pemimpin sipil
- 27 Desember: Bhutto tewas dalam serangan bunuh diri dalam sebuah aksi di jalan di Rawalpindi.
[http://www.arrahmah.com/]

- 26 Maret: Protes bersama partai-partai soal pengasingan mantan PM Benazir Bhutto dan Nawaz Sharif
- 3-10 Juli: Militer Pakistan menyerang Masjid Merah yang pro-Taliban di Islamabad yang menewaskan 100 orang
- 20 Juli: Bhutto dan Musharraf mengadakan pertemuan rahasia di Abu Dhabi soal kemungkinan pembagian kekuasaan
- 18 Oktober: Bhutto kembali ke Karachi dari Dubai setelah pengasingannya. 2 serangan bom bunuh diri melanda parade penyambutan Bhutto sejam kemudian, menewaskan 139 orang
- 31 Oktober: Bhutto mengatakan telah mendengar rumor Musharraf akan memberlakukan keadaan darurat dan menunda kunjungan ke Dubai. Bhutto lalu ke Dubai keesokan lainnya.
- 3 November: Musharraf memberlakukan keadaan darurat di Pakistan, membekukan UUD dan menahan tokoh-tokoh oposisi.
- 4 November : Polisi mengacak-acak dan membubarkan kelompok oposisi
- 7 November: Bhutto mengumumkan rencana untuk demonstrasi besar-besaran
- 9 November: Sejam sebelum rencana aksi besar-besaran di Rawalpindi, polisi mengenakan status tahanan rumah pada Bhutto di Islamabad. Belakangan, status tersebut dicabut
- 11 November: Musharraf mengumumkan akan membubarkan parlemen pada 15 November dan akan mengadakan pemilu pada Januari 2008
- 12 November: Bhutto menolak pembagian kekuasaan dengan Musharraf. Dia kembali dikenakan tahanan rumah agar tidak bisa memimpin aksi besar-besaran
- 13 November: Bhutto, untuk pertama kalinya, menyerukan Musharraf untuk mundur dari kursi PM Pakistan dan mengatakan akan tidak akan pernah bersedia bekerja sama dengannya
- 26 November: Bhutto dan Sharif mendaftarkan diri untuk pemilu. Musharraf mengumumkan akan mundur dari militer pada 28 November dan beralih menjadi pemimpin sipil
- 27 Desember: Bhutto tewas dalam serangan bunuh diri dalam sebuah aksi di jalan di Rawalpindi.
[http://www.arrahmah.com/]
Sabtu, 15 Desember 2007
Patani, Jauh Di Mata, Dekat di Hati
Memasuki Patani, mirip ke Aceh tempo dulu. Meski budaya Muslim Melayu sangat kental. Namun di mana-mana masih "diawasi" tentara

Hidayatullah.com--Alhamdulillah setelah tinggal di Bangkok nyaris dua bulan dan ngimpi ke Patani sejak lama, tiba-tiba saya dikontak National Reconciliation Council of Southern Thailand conflict untuk ikut sharing experiences tentang peacebuilding process pada workshop di Patani 7 – 8 December 2007. Kesampaian juga mimpinya. Allah SWT memang Maha Tahu keinginan hambanya.
Maka, tanggal 7 December 2007 pagi saya terbang ke Hatyai, kota terdekat dengan Patani yang punya bandara (karena di tiga propinsi Thailand, hanya Narathiwat yang punya Bandara, itupun hanya ada satu flight sehari ke Bangkok dengan NokAir, sungguh kayak anak tiri).
Tiba di Hatyai, atmosfir sudah sedikit berbeda. Di mobil jemputan kami ada stiker bertuliskan Allah dan Muhammad serta sang supirnya Muslim. Pemandangan yang sukar ditemui di Bangkok . Kalimat-kalimat Arab juga sudah mulai mudah dijumpai di Hatyai berdampingan dengan kalimat-kalimat Thailand . Tertera pada papan nama instansi pemerintah maupun swasta.
Perjalanan ke Patani memakan waktu satu setengah jam dari Hatyai. Jalanannya luas dan lengang dengan dua jalur terpisah yang mulus dan lebar. Hutan lebat diselingi pertanian rakyat adalah pemandangan utama perjalananan antara Hatyai dan Patani.
Sekedar informasi, Hatyai adalah kota terbesar di Provinsi Songkla yang penduduknya 50 % Muslim. Bersama-sama dengan provinsi Patani, Yala, dan Narathiwat, keempatnya dijuluki sebagai Patani Darussalam. Maka, nama Patani bisa berarti tiga makna : kota Patani, propinsi Patani, atau Patani Darussalam yang berarti gabungan dari empat propinsi mayoritas Muslim di Selatan Thailand .
Memasuki Patani, atmosfir semakin berbeda. Warna budaya Muslim Melayu semakin kental. Para Muslimah berjilbab, tua muda berseliweran dengan jalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum. Para lelaki tak banyak terlihat di jalan. Atmosfir kedua yang terasa berbeda adalah security yang amat ketat. Memasuki Patani berarti memasuki sekian banyak military checkpoint dan police checkpoint. Setiap beberapa kilo ada military checkpoint. Persis Aceh ketika jaman darurat militer sebelum tsunami dan Helsinki agreement.
Bagi mereka yang sering singgah ke Malaysia dan Aceh, sepintas pemandangan di Patani tak jauh berbeda. Yang menandakan bahwa ini wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol yang masih bertebaran disana sini dan bendera Thai serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di sekolah, hotel, maupun instansi pemerintah.
Penduduknya sendiri lebih banyak yang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu Patani ketimbang bahasa Thai. Utamanya kaum dewasa dan tua. Bahasa Melayu mereka unik. Bahasa “percakapan kampong”-nya sulit ditangkap karena lidah seperti ditekuk, persis Melayu Kelantan Malaysia . Namun bahasa formalnya amat mirip dengan Melayu Malaysia , mudah dipahami oleh telinga Indonesia . Saya ikut shalat Jum’at di Masjid desa Tiraya dan bahasa khotbah Jum’at –nya amat mudah dicerna. Juga bahasa penyiar radio-nya. Cukup understandable.
Konflik di Patani, Yala, dan Narathiwat sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan ketika ketiga propinsi tersebut dilebur ke dalam kerajaan Siam melalui perjanjian sepihak oleh pemerintah kolonial Inggris pada awal abad 20.
Sebelum dipaksa bergabung dengan Siam, Patani adalah kesultanan Mandiri yang tersohor sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara. Konflik yang berskala meluas dan massif berlangsung mulai awal 2004. Ketika terjadi penyerbuan Masjid Krue Se di Patani pada April 2004 lalu pembantaian Tak Bai di Narathiwat pada Oktober 2004.
Kedua peristiwa tersebut menambah eskalasi konflik Thailand Selatan dan memaksa pemerintah Thai era Thaksin berpikir keras cara mengintegrasikan warga Thai beretnis Melayu (yang tak pernah merasa sebagai orang Thai ini) ke dalam Negara Thailand yang mayoritas Buddhist.
Sampai kini konflik masih berlangsung. Pekan lalu sebuah karaoke dibom oleh orang tak dikenal di luar kota Patani hingga tujuh orang tewas. Bulan Agustus silam dua rumah dibakar di desa Tiraya, tak jauh dari kota Patani.
Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan. Kendati kehidupan sepintas lalu berjalan normal. Mahasiswa tetap pergi kuliah ke kampus, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, jama’ah shalat tetap pergi ke masjid. Namun setelah maghrib kondisi berubah, jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas China dan Buddhist tak tampak di jalan-jalan umum. Sekali lagi, mirip Aceh di era sebelum Perjanjian Helsinki.
Konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai non Muslim keluar dari ketiga provinsi tersebut. Juga mengusir warga Muslim Patani sendiri yang bingung mengungsi kemana. Mengungsi ke Bangkok tak lebih baik karena juga tak merasa sebagai negeri sendiri. Ke Malaysia kendati secara kultural sama, namun juga mengundang masalah karena negaranya berbeda dan tak cukup ramah menampung ‘pendatang haram.’ Kampus Prince of Songkla University (PSU), Patani Campus, kini 90% mahasiswanya Muslim dari ketiga provinsi sekitar. Padahal dahulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi kesana. Tak heran, pemandangan di PSU Patani Campus mirip dengan kampus Indonesia . Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat shalat, makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok .
Jangan ditanya tentang bisnis, kendati ada Big C Superstore dan sekian banyak dealer mobil serta cellular company, namun bisnis mereka tak lebih hidup dari bagian Thai yang lain. Walau demikian, mesti diakui bahwa infrastruktur Patani amatlah baik, jalan luas dan mulus, listrik dan lifelines tersedia. Jauh lebih baik dari Aceh. Tapi tidak lebih baik dari propinsi Thai yang lain. Sedikit lebih baik-lah dari Narathiwat yang terkategori termiskin.
Satu hal yang menarik, di pasar tradisonal Patani, kedai DVD nya banyak menjual lagu-lagu dari artis Indonesia . Ada Laudya Cinthya Bella, Krisdayanti, dll. Tapi kebanyakan yang amat laris manis adalah Dangdut. Mereka bilang, kami suka dangdut Indonesia . Juga jangan tanya tentang sinetron Indonesia (yang juga mudah ditangkap dengan parabola), banyak yang hobi juga menonton sinetron dan film Indonesia .
Ada banyak cerita tentang Patani, kisah tentang semangat kaum minoritas bertahan di tengah mayoritas. Perjalanan kebingungan menentukan jati diri. Wajah kekerasan yang menahun dan melegenda. Ketidakpastian dan kecemasan yang selalu mendominasi hari-hari. Hidup terasing di negerinya sendiri…
Patani memang terbilang dekat dari Bangkok, tapi bagi sebagian besar warga Thai terasa begitu jauh (di hati). [Heru Susetyo, sedang melanjutkan di Mahidol University/www.hidayatullah.com]

Hidayatullah.com--Alhamdulillah setelah tinggal di Bangkok nyaris dua bulan dan ngimpi ke Patani sejak lama, tiba-tiba saya dikontak National Reconciliation Council of Southern Thailand conflict untuk ikut sharing experiences tentang peacebuilding process pada workshop di Patani 7 – 8 December 2007. Kesampaian juga mimpinya. Allah SWT memang Maha Tahu keinginan hambanya.
Maka, tanggal 7 December 2007 pagi saya terbang ke Hatyai, kota terdekat dengan Patani yang punya bandara (karena di tiga propinsi Thailand, hanya Narathiwat yang punya Bandara, itupun hanya ada satu flight sehari ke Bangkok dengan NokAir, sungguh kayak anak tiri).
Tiba di Hatyai, atmosfir sudah sedikit berbeda. Di mobil jemputan kami ada stiker bertuliskan Allah dan Muhammad serta sang supirnya Muslim. Pemandangan yang sukar ditemui di Bangkok . Kalimat-kalimat Arab juga sudah mulai mudah dijumpai di Hatyai berdampingan dengan kalimat-kalimat Thailand . Tertera pada papan nama instansi pemerintah maupun swasta.
Perjalanan ke Patani memakan waktu satu setengah jam dari Hatyai. Jalanannya luas dan lengang dengan dua jalur terpisah yang mulus dan lebar. Hutan lebat diselingi pertanian rakyat adalah pemandangan utama perjalananan antara Hatyai dan Patani.
Sekedar informasi, Hatyai adalah kota terbesar di Provinsi Songkla yang penduduknya 50 % Muslim. Bersama-sama dengan provinsi Patani, Yala, dan Narathiwat, keempatnya dijuluki sebagai Patani Darussalam. Maka, nama Patani bisa berarti tiga makna : kota Patani, propinsi Patani, atau Patani Darussalam yang berarti gabungan dari empat propinsi mayoritas Muslim di Selatan Thailand .
Memasuki Patani, atmosfir semakin berbeda. Warna budaya Muslim Melayu semakin kental. Para Muslimah berjilbab, tua muda berseliweran dengan jalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum. Para lelaki tak banyak terlihat di jalan. Atmosfir kedua yang terasa berbeda adalah security yang amat ketat. Memasuki Patani berarti memasuki sekian banyak military checkpoint dan police checkpoint. Setiap beberapa kilo ada military checkpoint. Persis Aceh ketika jaman darurat militer sebelum tsunami dan Helsinki agreement.
Bagi mereka yang sering singgah ke Malaysia dan Aceh, sepintas pemandangan di Patani tak jauh berbeda. Yang menandakan bahwa ini wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol yang masih bertebaran disana sini dan bendera Thai serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di sekolah, hotel, maupun instansi pemerintah.
Penduduknya sendiri lebih banyak yang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu Patani ketimbang bahasa Thai. Utamanya kaum dewasa dan tua. Bahasa Melayu mereka unik. Bahasa “percakapan kampong”-nya sulit ditangkap karena lidah seperti ditekuk, persis Melayu Kelantan Malaysia . Namun bahasa formalnya amat mirip dengan Melayu Malaysia , mudah dipahami oleh telinga Indonesia . Saya ikut shalat Jum’at di Masjid desa Tiraya dan bahasa khotbah Jum’at –nya amat mudah dicerna. Juga bahasa penyiar radio-nya. Cukup understandable.
Konflik di Patani, Yala, dan Narathiwat sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan ketika ketiga propinsi tersebut dilebur ke dalam kerajaan Siam melalui perjanjian sepihak oleh pemerintah kolonial Inggris pada awal abad 20.
Sebelum dipaksa bergabung dengan Siam, Patani adalah kesultanan Mandiri yang tersohor sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara. Konflik yang berskala meluas dan massif berlangsung mulai awal 2004. Ketika terjadi penyerbuan Masjid Krue Se di Patani pada April 2004 lalu pembantaian Tak Bai di Narathiwat pada Oktober 2004.
Kedua peristiwa tersebut menambah eskalasi konflik Thailand Selatan dan memaksa pemerintah Thai era Thaksin berpikir keras cara mengintegrasikan warga Thai beretnis Melayu (yang tak pernah merasa sebagai orang Thai ini) ke dalam Negara Thailand yang mayoritas Buddhist.
Sampai kini konflik masih berlangsung. Pekan lalu sebuah karaoke dibom oleh orang tak dikenal di luar kota Patani hingga tujuh orang tewas. Bulan Agustus silam dua rumah dibakar di desa Tiraya, tak jauh dari kota Patani.
Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan. Kendati kehidupan sepintas lalu berjalan normal. Mahasiswa tetap pergi kuliah ke kampus, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, jama’ah shalat tetap pergi ke masjid. Namun setelah maghrib kondisi berubah, jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas China dan Buddhist tak tampak di jalan-jalan umum. Sekali lagi, mirip Aceh di era sebelum Perjanjian Helsinki.
Konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai non Muslim keluar dari ketiga provinsi tersebut. Juga mengusir warga Muslim Patani sendiri yang bingung mengungsi kemana. Mengungsi ke Bangkok tak lebih baik karena juga tak merasa sebagai negeri sendiri. Ke Malaysia kendati secara kultural sama, namun juga mengundang masalah karena negaranya berbeda dan tak cukup ramah menampung ‘pendatang haram.’ Kampus Prince of Songkla University (PSU), Patani Campus, kini 90% mahasiswanya Muslim dari ketiga provinsi sekitar. Padahal dahulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi kesana. Tak heran, pemandangan di PSU Patani Campus mirip dengan kampus Indonesia . Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat shalat, makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok .
Jangan ditanya tentang bisnis, kendati ada Big C Superstore dan sekian banyak dealer mobil serta cellular company, namun bisnis mereka tak lebih hidup dari bagian Thai yang lain. Walau demikian, mesti diakui bahwa infrastruktur Patani amatlah baik, jalan luas dan mulus, listrik dan lifelines tersedia. Jauh lebih baik dari Aceh. Tapi tidak lebih baik dari propinsi Thai yang lain. Sedikit lebih baik-lah dari Narathiwat yang terkategori termiskin.
Satu hal yang menarik, di pasar tradisonal Patani, kedai DVD nya banyak menjual lagu-lagu dari artis Indonesia . Ada Laudya Cinthya Bella, Krisdayanti, dll. Tapi kebanyakan yang amat laris manis adalah Dangdut. Mereka bilang, kami suka dangdut Indonesia . Juga jangan tanya tentang sinetron Indonesia (yang juga mudah ditangkap dengan parabola), banyak yang hobi juga menonton sinetron dan film Indonesia .
Ada banyak cerita tentang Patani, kisah tentang semangat kaum minoritas bertahan di tengah mayoritas. Perjalanan kebingungan menentukan jati diri. Wajah kekerasan yang menahun dan melegenda. Ketidakpastian dan kecemasan yang selalu mendominasi hari-hari. Hidup terasing di negerinya sendiri…
Patani memang terbilang dekat dari Bangkok, tapi bagi sebagian besar warga Thai terasa begitu jauh (di hati). [Heru Susetyo, sedang melanjutkan di Mahidol University/www.hidayatullah.com]
Selasa, 27 November 2007
Ratusan Ribu Massa Protes Annapolis
Sekitar ratusan ribu massa pendukung Hamas turun jalan menentang Konfrensi Annapolis yang diprakarsai Amerika Serikat (AS)
Hidayatullah.com--Ratusan ribu massa dari penduduk Palestina di Jalur Gaza turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa menentang konferensi Annapolis yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Selasa (27/11). Para peserta aksi menyatakan penegasannya akan hak-hak Palestina dan menolak melakukan kompromi.
Massa meneriakkan yel-yel sumpah yang dibacakan pejabat Ketua Parlemen Palestina, Dr. Ahmad Bahr.
Dalam sumpah setia itu, Bahr mengatakan; Kami berjanji kepada Allah, kemudian kepada bangsa kami, bahwa kami tidak akan menerima apapun solusi persoalan Palestina kecuali dengan pembebasan tanah air kami dan tempat-tempat suci serta kembalinya para pengungsi ke tanah air mereka yang dulu mereka diusir darinya tahun 1948. Kami juga tidak akan menjual sejengkal tanahpun kota Al-Quds bersama tanah-tanah lainnya, rumah, Masjid Al-Aqsha dan semua tempat-tempat suci, baik milik Islam maupun milik Kristen. Allah ta'ala sebagai saksi atas apa yang saya ucapkan."
Bahr juga mengumumkan rencana parlemen Palestina membuat tiga undang-undang, yaitu undang-undang tentang hak kembali para pengungsi, melarang kompromi untuk melepaskan Al-Quds dan undang-undang yang melindungi perlawanan dari tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, mereka yang selalu melakukan koordinasi dengan pihak penjajah Zionis 'Israel'.
Sementara itu, Dr. Mahmud Zahhar, mantan Menlu Palestina yang pernah datang ke Indonesia dan petinggi Hamas juga sebagai Ketua Konferensi Nasional untuk menjaga prinsip-prinsip Palestina, menegaskan bahwa prinsip-prinsip Palestina "tidak berubah dan tidak berganti." Beliau mengisyaratkan bahwa konferensi nasional yang terdiri dari beberapa faksi diantarannya Hamas, Jihad Islami, PFLP (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina), Saeqah, Brigade Syuhada Al-Aqsha dan Alwiyah Naser, merekalah yang menggetarkan musuh Zionis 'Israel' setiap saat.
Zahhar menjelaskan bahwa aksi unjuk rasa ini "dilakukan sebagai penutupan sesi pertama dari kegiatan konferensi nasional yang merupakan referendum jelas kepada siapa saja melihat."
Beliau menekankan bahwa "Palestina, baik darat maupun lautan yang berbatasan dengan Suriah dan Lebanon di utara dan yang berbatasan dengan Mesir adalah tanah milik kaum Muslimin dan Nasrani bangsa Palestina. Tak ada seorang presiden, negara, umat, generasi ataupun bahkan PBB yang memilikinya walaupun harus ditekan untuk melakukan kompromi melepaskan sejengkal tanahnya."
Zahhar juga menegaskan bahwa hak kembali pengungsi Palestina ke Haifa, Yafa, Al-Quds, Mejdal, Yebna dan Naqurah adalah "hak yang terjaga, yang ribuan PBB tidak bisa untuk mengambil hak kembali bangsa Palestina itu."
Masih tambah Zahhar, "Kami tidak memberikan wewenang kepada siapapun untuk menandatangani suatu perjanjian atau dokumen atas nama kami yang melucuti prinsip-prinsip kami. Barangsiapa yang melakukan hal itu, sejarah akan mencatatnya sebagai pengkhianat hingga hari akhir nanti." [pai/www.hidayatullah.com]
Hidayatullah.com--Ratusan ribu massa dari penduduk Palestina di Jalur Gaza turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa menentang konferensi Annapolis yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Selasa (27/11). Para peserta aksi menyatakan penegasannya akan hak-hak Palestina dan menolak melakukan kompromi.
Massa meneriakkan yel-yel sumpah yang dibacakan pejabat Ketua Parlemen Palestina, Dr. Ahmad Bahr.
Dalam sumpah setia itu, Bahr mengatakan; Kami berjanji kepada Allah, kemudian kepada bangsa kami, bahwa kami tidak akan menerima apapun solusi persoalan Palestina kecuali dengan pembebasan tanah air kami dan tempat-tempat suci serta kembalinya para pengungsi ke tanah air mereka yang dulu mereka diusir darinya tahun 1948. Kami juga tidak akan menjual sejengkal tanahpun kota Al-Quds bersama tanah-tanah lainnya, rumah, Masjid Al-Aqsha dan semua tempat-tempat suci, baik milik Islam maupun milik Kristen. Allah ta'ala sebagai saksi atas apa yang saya ucapkan."
Bahr juga mengumumkan rencana parlemen Palestina membuat tiga undang-undang, yaitu undang-undang tentang hak kembali para pengungsi, melarang kompromi untuk melepaskan Al-Quds dan undang-undang yang melindungi perlawanan dari tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, mereka yang selalu melakukan koordinasi dengan pihak penjajah Zionis 'Israel'.
Sementara itu, Dr. Mahmud Zahhar, mantan Menlu Palestina yang pernah datang ke Indonesia dan petinggi Hamas juga sebagai Ketua Konferensi Nasional untuk menjaga prinsip-prinsip Palestina, menegaskan bahwa prinsip-prinsip Palestina "tidak berubah dan tidak berganti." Beliau mengisyaratkan bahwa konferensi nasional yang terdiri dari beberapa faksi diantarannya Hamas, Jihad Islami, PFLP (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina), Saeqah, Brigade Syuhada Al-Aqsha dan Alwiyah Naser, merekalah yang menggetarkan musuh Zionis 'Israel' setiap saat.
Zahhar menjelaskan bahwa aksi unjuk rasa ini "dilakukan sebagai penutupan sesi pertama dari kegiatan konferensi nasional yang merupakan referendum jelas kepada siapa saja melihat."
Beliau menekankan bahwa "Palestina, baik darat maupun lautan yang berbatasan dengan Suriah dan Lebanon di utara dan yang berbatasan dengan Mesir adalah tanah milik kaum Muslimin dan Nasrani bangsa Palestina. Tak ada seorang presiden, negara, umat, generasi ataupun bahkan PBB yang memilikinya walaupun harus ditekan untuk melakukan kompromi melepaskan sejengkal tanahnya."
Zahhar juga menegaskan bahwa hak kembali pengungsi Palestina ke Haifa, Yafa, Al-Quds, Mejdal, Yebna dan Naqurah adalah "hak yang terjaga, yang ribuan PBB tidak bisa untuk mengambil hak kembali bangsa Palestina itu."
Masih tambah Zahhar, "Kami tidak memberikan wewenang kepada siapapun untuk menandatangani suatu perjanjian atau dokumen atas nama kami yang melucuti prinsip-prinsip kami. Barangsiapa yang melakukan hal itu, sejarah akan mencatatnya sebagai pengkhianat hingga hari akhir nanti." [pai/www.hidayatullah.com]
Kamis, 27 September 2007
Fenomena Iran dan Hizbullah (Bag.3)
Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari San’a yang hidup semasa dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib r. A. Sejarah mencatat bahwa Yahudi dari San’a inilah yang “memecah” umat Islam menjadi dua kelompok besar: Sunni dan Syiah. Sebelum kemunculan Abdullah bin Saba, tidak ada istilah Sunni (Ahlul Sunnah Wal Jamaah) dan Syiah. Islam ya Islam. Tidak ada Islam Sunni atau Islam Ahlul Sunnah Wal Jamaah dan lainnya.
Keberadaan Abdullah bin Saba yang Yahudi ini seakan melengkapi bukti bahwa Yahudi memang sungguh-sungguh berjuang untuk menghancurkan apa yang kita kenal sebagai agama langit: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ke dalam agama asli Yahudi (Taurat Musa a. S.), kaum Yahudi pengikut Samiri (tokoh Kabbalah) menciptakan Talmud, sebuah kitab iblis yang diikuti oleh Gerakan Zionis Dunia sekarang ini.
Ke dalam agama Nasrani (Nabi Isa a. S.), mereka menyusupkan Paulus dari Tarsus, seorang Yahudi dari Tarsus yang hidup berbeda zaman dengan Nabi Isa a. S. namun mengaku sebagai muridnya. Paulus ini yang kemudian mengarang Kitab Perjanjian Baru (The New Testament) yang diklaimnya sebagai penggenapan Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament). Dan ke dalam umat Muslimin, Yahudi menyusupkan Abdullah bin Saba untuk merusak Islam.
Keberadaan Abdullah bin Saba sendiri menjadi kontroversial di kalangan Syiah. Ada penganut Syiah yang mengakui bahwa Abdullah bin Saba benar-benar ada, namun banyak pula yang menyebut Abdullah bin Saba hanyalah sebuah mitos dan kebohongan yang besar, sebuah rekaan dari musuh-musuh Syiah.
Namun dari catatan sejarah yang ada, keberadaan Abdullah bin Saba agaknya jauh lebih kuat fakta-faktanya ketimbang yang menolak keberadaannya. Sejumlah literatur klasik memaparkan siapa sesungguhnya orang Yahudi ini:
- An Nasyi Al-Akbar (293 H), mencantumkan tentang Ibnu Saba, dan golongan As Sabaiyah, dengan kalimat: “Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali allaihi salam masih hidup dan tidak pernah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang arab dengan tongkatnya, orang ini adalah As Sabaiyah, pengikut Abdullah bin Saba …. Abdullah bin Saba seorang laki-laki dari penduduk Sana, seorang Yahudi yang mengaku telah masuk Islam lewat tangan Ali dan bermukim di Al-Madain. (Masailul Imaamah Wa Muqtathofaat minil kitabil Ausath fil Maqalat/ditahqiq oleh Yusuf Faan As, Beirut 1971, hal. 22, 23).
- Al-Qummi (301 H), menyebutkan: Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya Taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Ali pun menanyakannya akan hal itu. Maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Llalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru: Wahai Amirul Mukminin! Apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak berikrar setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al-Madain. (Al-Maqaalat wal Firaq, hal: 20. Diedit dan dikomenteri serta kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Muasasah Mathbuati athani, Teheran 1963).
- An Naubakhti (310H), menyetujui Al-Qummi dalam memperkuat berita-berita tentang Abdullah bin Saba, lalu ia menyebutkan satu contoh: Tatkala sampai kepada Abdullah bin Saba berita kematian Ali di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu: Kamu telah berdusta kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong, dan kamu mendatangkan tujuhpuluh saksi atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi.(Firaqus Syiah, hal 23. Oleh Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An Naubakhti, ditashhih oleh H. Raiter, Istambul, percetakan Ad Daulah, 1931).
- Al-Kisysyi mencantumkan (dari para tokoh abad ke empat) beberapa riwayat yang menegaskan hakikat Ibnu Saba, dan menerangkan kabar beritanya. Inilah sebagiannya: Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Quluwiyah Al-Qummi, ia berkata: telah menceritakan kepada saya Saad bin Abdillah bin Abi khalaf Al-Qummi, ia berkata: telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Utsman Al-Abdi dari Yunus dengannya, Abdurrahman bin abdillah bin Sinan telah berkata: telah menceritakan kepada saya Abu Jafar Alaihis Salam: Sesungguhnya Abdullah bin Saba, adalah orang yang mendakwakah kenabian, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya Amirul Mukminin alaihi salam (Ali r. A.), sebagai Allah, Maha tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar. Lalu berita itu sampai ke Amiril mukminin alaihis salam, beliau menanyakannya, maka iapun mengakui hal itu, dan berkata: Ya, engkau adalah Dia (Allah), dan sungguh telah dibisikkan ke dalam hatiku, bahwasanya engkau adalah Allah, dan saya adalah nabi. Lalu Amirul Mukminin berkata kepadanya: Celaka kamu, sungguh syaitan telah menguasaimu, kembalilah kamu (kepada kebenaran) dari ini, celaka ibumu, dan bertaubatlah. Maka iapun enggan (untuk bertaubat), lalu beliau menahannya, dan memintanya agar bertaubat selama tiga hari, namun belum juga bertaubat, lantas beliau membakarnya dengan api, dan berkata: syaitan telah menguasainya, selalu mendatanginya dan membisikkan ke dalam hatinya hal itu.(Al-Kisysyi: Rajalul Kasysyi hal: 98, 99, marifatu Akhbaarir Rijaal (al-mathbaah al-musthafawiyah 1317) hal: 70).
- Al-Hasan bin Ali Al-Hulliy (726 H), menyebutkan Abdullah bin Saba dari golongan-golongan orang yang lemah (tercela).(Ar Rijaal (cetakan AL Haidariyah/ An Najfah 1392 H): 2/71).
- Adapun Ibnu Murtadha (Ahmad bin Yahya meninggal tahun 840 H) yang ia itu adalah orang mutazilah dan menisbatkan dirinya ke Ahli Bait, dan termasuk imam (tokoh) syiah Zaidiyah, maka dia tidak hanya memperkuat keberadaan Ibnu Saba, bahkan menegaskan bahwa sumber ajaran syiah dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba, karena ia adalah orang yang pertama kali membuat perkataan adanya nash (ketetapan keimaman), dan perkataan keimaman dua belas imam.(Tabaqatul Mutizilah (diterbitkan oleh Faranz syatainr/ cetakan Al-Katolikiyah/ Bairut hal: 5 dan 6) dan lihat juga Dirasaat fil firaq wa aqaidil Islamiyah (diterbitkan oleh Penerbit Irsayd Baghdad) hal: 5).
Ada banyak literatur klasik yang berasal dari kalangan mereka sendiri yang meneguhkan keberadaan dan peranan seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba (Ibnu Saba) dalam memecah kaum Muslimin. Hal ini dipaparkan semata-mata agar umat Islam menyadari dan bisa menilai dengan obyektif apa sesungguhnya yang mereka tampakkan sekarang ini. Dalam tulisan keempat (terakhir) akan dipaparkan penggalan sejarah yang menyebabkan Dunia Islam mengalami skisma besar menjadi dua bagian: Sunni dan Syiah, di mana peran Abdullah bin Saba sangat dominan.(Bersambung/Rizki)[www.eramuslim.com]
Keberadaan Abdullah bin Saba yang Yahudi ini seakan melengkapi bukti bahwa Yahudi memang sungguh-sungguh berjuang untuk menghancurkan apa yang kita kenal sebagai agama langit: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ke dalam agama asli Yahudi (Taurat Musa a. S.), kaum Yahudi pengikut Samiri (tokoh Kabbalah) menciptakan Talmud, sebuah kitab iblis yang diikuti oleh Gerakan Zionis Dunia sekarang ini.
Ke dalam agama Nasrani (Nabi Isa a. S.), mereka menyusupkan Paulus dari Tarsus, seorang Yahudi dari Tarsus yang hidup berbeda zaman dengan Nabi Isa a. S. namun mengaku sebagai muridnya. Paulus ini yang kemudian mengarang Kitab Perjanjian Baru (The New Testament) yang diklaimnya sebagai penggenapan Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament). Dan ke dalam umat Muslimin, Yahudi menyusupkan Abdullah bin Saba untuk merusak Islam.
Keberadaan Abdullah bin Saba sendiri menjadi kontroversial di kalangan Syiah. Ada penganut Syiah yang mengakui bahwa Abdullah bin Saba benar-benar ada, namun banyak pula yang menyebut Abdullah bin Saba hanyalah sebuah mitos dan kebohongan yang besar, sebuah rekaan dari musuh-musuh Syiah.
Namun dari catatan sejarah yang ada, keberadaan Abdullah bin Saba agaknya jauh lebih kuat fakta-faktanya ketimbang yang menolak keberadaannya. Sejumlah literatur klasik memaparkan siapa sesungguhnya orang Yahudi ini:
- An Nasyi Al-Akbar (293 H), mencantumkan tentang Ibnu Saba, dan golongan As Sabaiyah, dengan kalimat: “Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali allaihi salam masih hidup dan tidak pernah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang arab dengan tongkatnya, orang ini adalah As Sabaiyah, pengikut Abdullah bin Saba …. Abdullah bin Saba seorang laki-laki dari penduduk Sana, seorang Yahudi yang mengaku telah masuk Islam lewat tangan Ali dan bermukim di Al-Madain. (Masailul Imaamah Wa Muqtathofaat minil kitabil Ausath fil Maqalat/ditahqiq oleh Yusuf Faan As, Beirut 1971, hal. 22, 23).
- Al-Qummi (301 H), menyebutkan: Sesungguhnya Abdullah bin Saba adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya Taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Ali pun menanyakannya akan hal itu. Maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Llalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru: Wahai Amirul Mukminin! Apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak berikrar setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al-Madain. (Al-Maqaalat wal Firaq, hal: 20. Diedit dan dikomenteri serta kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Muasasah Mathbuati athani, Teheran 1963).
- An Naubakhti (310H), menyetujui Al-Qummi dalam memperkuat berita-berita tentang Abdullah bin Saba, lalu ia menyebutkan satu contoh: Tatkala sampai kepada Abdullah bin Saba berita kematian Ali di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu: Kamu telah berdusta kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong, dan kamu mendatangkan tujuhpuluh saksi atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi.(Firaqus Syiah, hal 23. Oleh Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An Naubakhti, ditashhih oleh H. Raiter, Istambul, percetakan Ad Daulah, 1931).
- Al-Kisysyi mencantumkan (dari para tokoh abad ke empat) beberapa riwayat yang menegaskan hakikat Ibnu Saba, dan menerangkan kabar beritanya. Inilah sebagiannya: Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Quluwiyah Al-Qummi, ia berkata: telah menceritakan kepada saya Saad bin Abdillah bin Abi khalaf Al-Qummi, ia berkata: telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Utsman Al-Abdi dari Yunus dengannya, Abdurrahman bin abdillah bin Sinan telah berkata: telah menceritakan kepada saya Abu Jafar Alaihis Salam: Sesungguhnya Abdullah bin Saba, adalah orang yang mendakwakah kenabian, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya Amirul Mukminin alaihi salam (Ali r. A.), sebagai Allah, Maha tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar. Lalu berita itu sampai ke Amiril mukminin alaihis salam, beliau menanyakannya, maka iapun mengakui hal itu, dan berkata: Ya, engkau adalah Dia (Allah), dan sungguh telah dibisikkan ke dalam hatiku, bahwasanya engkau adalah Allah, dan saya adalah nabi. Lalu Amirul Mukminin berkata kepadanya: Celaka kamu, sungguh syaitan telah menguasaimu, kembalilah kamu (kepada kebenaran) dari ini, celaka ibumu, dan bertaubatlah. Maka iapun enggan (untuk bertaubat), lalu beliau menahannya, dan memintanya agar bertaubat selama tiga hari, namun belum juga bertaubat, lantas beliau membakarnya dengan api, dan berkata: syaitan telah menguasainya, selalu mendatanginya dan membisikkan ke dalam hatinya hal itu.(Al-Kisysyi: Rajalul Kasysyi hal: 98, 99, marifatu Akhbaarir Rijaal (al-mathbaah al-musthafawiyah 1317) hal: 70).
- Al-Hasan bin Ali Al-Hulliy (726 H), menyebutkan Abdullah bin Saba dari golongan-golongan orang yang lemah (tercela).(Ar Rijaal (cetakan AL Haidariyah/ An Najfah 1392 H): 2/71).
- Adapun Ibnu Murtadha (Ahmad bin Yahya meninggal tahun 840 H) yang ia itu adalah orang mutazilah dan menisbatkan dirinya ke Ahli Bait, dan termasuk imam (tokoh) syiah Zaidiyah, maka dia tidak hanya memperkuat keberadaan Ibnu Saba, bahkan menegaskan bahwa sumber ajaran syiah dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba, karena ia adalah orang yang pertama kali membuat perkataan adanya nash (ketetapan keimaman), dan perkataan keimaman dua belas imam.(Tabaqatul Mutizilah (diterbitkan oleh Faranz syatainr/ cetakan Al-Katolikiyah/ Bairut hal: 5 dan 6) dan lihat juga Dirasaat fil firaq wa aqaidil Islamiyah (diterbitkan oleh Penerbit Irsayd Baghdad) hal: 5).
Ada banyak literatur klasik yang berasal dari kalangan mereka sendiri yang meneguhkan keberadaan dan peranan seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba (Ibnu Saba) dalam memecah kaum Muslimin. Hal ini dipaparkan semata-mata agar umat Islam menyadari dan bisa menilai dengan obyektif apa sesungguhnya yang mereka tampakkan sekarang ini. Dalam tulisan keempat (terakhir) akan dipaparkan penggalan sejarah yang menyebabkan Dunia Islam mengalami skisma besar menjadi dua bagian: Sunni dan Syiah, di mana peran Abdullah bin Saba sangat dominan.(Bersambung/Rizki)[www.eramuslim.com]
Fenomena Iran dan Hizbullah (Bag.2)
Dalam tulisan kedua ini, kita akan mencoba untuk melihat siapa sebenarnya Khomeini. Tokoh yang sangat dipuja oleh rakyat Syiah Imamiyah Iran dan juga Hizbullah dengan Syed Hassan Nasrallahnya ini memiliki banyak kontradiksi di dalam perjalanan hidup dan tindak-tanduknya.
Di sini bukan pada tempatnya kita menuturkan riwayat perjalanan tokoh yang satu ini secara detil, juga paham Syiahnya. Begitu banyak literatur yang memuat hal itu. Ada yang menyanjungnya setara Rasulullah SAW, tapi ada pula yang mencacinya, sebagaimana kelaziman warga Syiah mencaci-maki para Shahabat Rasulullah seperti Abu Bakar r. A., Umar bin Khattab r. A., dan Ustman bin Affan r. A.
Di sini kita hanya melihat sisi-sisi seorang Khomeini dari sejumlah pandangan, sikapnya, dan juga tulisan-tulisannya. Inilah di antaranya:
Menindas Ayatollah Hasan Thabathab
Khomeini merupakan tokoh pencetus teori “walayatul faqih” di mana banyak orang beranggapan teori ini berasal dari Syiah Imamiyah, suatu aliran Syiah yang dipegang mayoritas rakyat Iran. Namun sesungguhnya teori ini tidak sama dengan aliran Syiah Imamiyah. Karena menentang teori ini, maka Ayatollah Hasan Thabathab yang tinggal di Qum diperangi oleh Khomeini, seperti dilarang menggunakan pesawat telepon, dilarang menemui sahabatnya, saluran air dan listrik ke rumahnya di putus, juga tidak boleh menjalani pengobatan di rumah sakit jika dia menderita sakit.
Hasan Thabathab menentang teori “Khomeinism” ini yang dianggapnya dapat menjadikan Khomeini seorang diktatur, sebagai wali Allah. Saya tidak dapat menerima hal itu. Itu merupakan penunggangan aliran Syiah dan kediktatoran tidak ada dalam agama ini. ”
“Saya berpesan kepada semua ulama dan para cendekiawan bahwa segala apa yang terjadi di Iran dengan ‘Revolusi Islam’nya sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, dan malah banyak bertentangan dengan nash-nash Qur’an yang sampai pada kita. Apa yang diperbuat Khomeini dengan pejabat-pejabatnya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Islam, ” tandas Ayatollah Hasan Thabathab (Naqdu Walayatil Faqih-Muhammad Maalullah, hal 27 & 28, 30 & 31)
Dikecam Dr. Musa Al-Musavi
Teori ‘Khomeinisme” atau “Walayatul faqih” juga mendapat kecaman dari Dr. Musa Al-Musavi, seorang cendekiawan Syiah Iran. Musavi berpendapat, “Walayatul faqih adalah satu bid’ah yang meyakini bahwa penguasa-penguasa merupakan wakil-wakil Imam Mahdi di zaman Ghaibah Kubra (Keghaiban Besar). Ide ini sesungguhnya berasal dari pemikiran huluhiyyah (inkarnasi) yang terdapat dalam dogma Kristiani yang meyakini bahwa Allah telah menjelma di dalam diri Al-Masih dan Al-Masih pula telah menjelma di dalam Paus. ”
Dr. Musavi juga mengatakan, “Konsep walayatul faqih bertentangan dengan nash al-Quran dan barangsiapa secara sengaja dan jelas menentang nash Allah, maka dia telah keluar dari Islam. ” (hal 73)
Membunuh Gurunya sendiri
Sementara Ayatollah Syariat Madari, guru Khomeini yang telah menganugerahkan istilah “Ayatollah” kepada Khomeini, di mana beliau juga seorang tokoh ulama Syiah yang ternama, ternyata juga menentang konsep yang diusung Khomeini. Akibatnya, setelah berkuasa, Khomeini mengirimkan 10. 000 tentaranya (!) untuk menyerang dan membunuh gurunya ini. Ayatollah Syariat Madari sependapat dengan ulama Syiah Iran lainnya yang membatasi kekuasaan faqih dalam bidang-bidang tertentu saja dan sama sekali tidak bisa mengklaim sebagai wakil dari Ratu Adil atau Imam Mahdi. (Dr. Musa Al-Musavi-At Tsauratuu Al-Baaisah, hal. 51),
Walayatul faqih secara ringkas berarti bahwa seorang penguasa yang faqih bertindak sebagai wakil dari Imam Mahdi dalam memerintah rakyatnya yang sudah putus asa karena Imam Mahdi yang sejati tidak dating-datang juga. Jadi menurut konsep yang juga dikenal sebagai ‘Khomeinisme’ ini, seorang penguasa merupakan seorang ‘pejabat pelaksana’ Imam Mahdi (Khomeini, Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal 74).
Konsep inilah yang ditentang banyak ulama Syiah Iran sendiri. Menurut Syiah, setiap negara yang ditegakkan sebelum kemunculan Imam Mahdi adalah tidak sah walau pemimpinnya berada di atas jalan yang benar. Al-Kulaini meriwayatkan dari Abi Bashir dari Abi Abdillah (Jaafar Shadiq) bahawa beliau berkata, “Setiap orang yang menjulang bendera sebelum Qaaim (Al-Mahdi) adalah taghut yang disembah selain dari Allah SWT. ” (Ar Raudhah Min Al-Kafi, hal 295). Jadi, menurut ulama Syiah ini, Khomeini adalah thagut.
Ini dkuatkan oleh pensyarah kitab Al-Kafi, Maula Muhammad Soleh Al-Maazan Daraani (wafat 1080 H) di dalam syarahnya terhadap kitab Al-Kafi yang dianggap sebagai syarah Al-Kafi yang muktamad menyebutkan bahawa, “walaupun orang yang memimpinnya itu menyeru kepada kebenaran” (Syarah Al-Kafi, jilid 2, hal 371)
Khomeinisme
Ajaran dan`trend’ yang dibawa Khomeini merupakan satu pecahan baru dari aliran Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah. Sebab itu dinamakan “Khomeinism”. Namun walau demikian, secara keseluruhan, Khomeini tetap berpegang teguh dengan aqidah dan ajaran Syiah yang diterima di kalangan Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah secara turun temurun. Tidak ada perbedaan aqidah dan ajaran Syiah antara Khomeini dengan yang lainnya. Hanya saja, Khomeini telah membawa konsep taqqiyah (berbohong demi kepentingannya) dengan seluas-luasnya sampai ke peringkat negara dan politik internasional.
Selain taqiyyah, Syiah Imamiyah juga meyakini secara akidah bahwa para Imam Dua Belas itu manusia yang maksum (terpelihara dari dosa besar dan kecil), sederajat dengan Rasulullah SAW. Khomeini berkata, ” Kita tidak dapat menggambarkan para Imam itu lupa dan lalai. ” (Al-hukumah Al-Islamiyyah, hal 91)
Syiah juga percaya bahwa al-Quran yang ada sekarang ini telah diselewengkan oleh para Shahabat Nabi selain Imam Ali r. A.). Ni`matullah Al-Jazaairi di dalam kitabnya Al-Anwar An Nu`maniyyah mengatakan “Sesungguhnya Al-Quran sebagaimana telah diturunkan tidaklah ditulis kecuali oleh Amirul Mukminin (Alia. A. S.) dengan wasiat daripada Nabi s. A. W. Maka selepas kewafatan Rasulullah s. A. W. Sayyidina Ali sibuk mengumpulkannya selama enam bulan. Setelah dia mengumpulkannya seperti ia diturunkan (kepada Rasulullah s. A. W.) dia lalu membawa Al-Quran itu kepada orang-orang yang telah berlaku curang setelah kewafatan Rasulullah s. A. W. (maksudnya Abu Bakar r. A., Umar r. A., dan Ustman r. A. (Al-Anwar An Nu’maniyyah jilid 2, hal 360).
Dalam bukunya “Kasyful Asrar” (hal 114) Khomeini secara implisit mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah diselewengkan karena tidak memuat nama para Imam Dua Belas. “Abu Bakar dan Umar telah banyak menyalahi hukum-hukum Allah. Mereka berdua telah banyak mempermainkan hukum-hukum Tuhan. Mereka telah menghalalkan dan mengharamkan dari pihak diri-sendiri. Mereka berdua telah melakukan kezaliman terhadap Fatimah dan anak cucunya” (Kasyful Asrar, hal 110).
Khomeini juga merupakan salah satu dari enam ulama Syiah yang telah mensahkan dan merestui kitab “Tuhfatul Awam” yang mengandungi doa supaya Allah melaknat Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan pengikut-pengikutnya. Doa itu antara lain berbunyi: “Ya Allah! Laknatilah dua berhala quraisy, dua jiblnya, dua taghutnya, dua orang yang malang dari kalangan mereka, dan dua orang anak perempuan mereka. Mereka berdua telah melanggar perintahMu, mengingkari wahyuMu, menolak kurniaanMu, dan durhaka kepada RasulMu. Mereka berdua telah mengubah agamaMU dan menyelewengkan KitabMu, mereka berdua telah menyintai musuh-musuhMu, menolak nikmat-nikmatMu dan telah menghentikan hukum-hukumMu ……. ”dan seterusnya. Dua orang itu adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Tentang Mut’ah, nikah sementara, Khomeini menulis bahwa Mut’ah boleh dilakukan dengan perempuan Yahudi, Nasrani, Majusi, juga dengan para pelacur (Khomeini, Tahrirul Wasilah, jilid 2 hal. 292).
Inilah sebagian pemaparan tentang Khomeini dan Syiahnya. Adalah ironis, Imam Jaafar As Shiddiq sendiri yang dianggap oleh golongan Syiah sebagai Imam Maksum mereka yang keenam pernah berkata, dan dikutip kata-katanya itu tokoh ulama Syiah, Syeikh At Thusi di dalam kitabnya “Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal” (sebuah kitab Syiah) yang menyatakan, ” Tidak ada satu pun ayat yang diturunkan oleh Allah tentang golongan munafiqin melainkan kandungan ayat itu pasti ada pada orang yang menganut faham Syiah. ” (Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal, hal. 1).
Dalam tulisan ketiga kita akan mengulas tentang Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang berada di balik kelahiran paham Syiah ini.(bersambung/rz)[www.eramuslim.com]
Di sini bukan pada tempatnya kita menuturkan riwayat perjalanan tokoh yang satu ini secara detil, juga paham Syiahnya. Begitu banyak literatur yang memuat hal itu. Ada yang menyanjungnya setara Rasulullah SAW, tapi ada pula yang mencacinya, sebagaimana kelaziman warga Syiah mencaci-maki para Shahabat Rasulullah seperti Abu Bakar r. A., Umar bin Khattab r. A., dan Ustman bin Affan r. A.
Di sini kita hanya melihat sisi-sisi seorang Khomeini dari sejumlah pandangan, sikapnya, dan juga tulisan-tulisannya. Inilah di antaranya:
Menindas Ayatollah Hasan Thabathab
Khomeini merupakan tokoh pencetus teori “walayatul faqih” di mana banyak orang beranggapan teori ini berasal dari Syiah Imamiyah, suatu aliran Syiah yang dipegang mayoritas rakyat Iran. Namun sesungguhnya teori ini tidak sama dengan aliran Syiah Imamiyah. Karena menentang teori ini, maka Ayatollah Hasan Thabathab yang tinggal di Qum diperangi oleh Khomeini, seperti dilarang menggunakan pesawat telepon, dilarang menemui sahabatnya, saluran air dan listrik ke rumahnya di putus, juga tidak boleh menjalani pengobatan di rumah sakit jika dia menderita sakit.
Hasan Thabathab menentang teori “Khomeinism” ini yang dianggapnya dapat menjadikan Khomeini seorang diktatur, sebagai wali Allah. Saya tidak dapat menerima hal itu. Itu merupakan penunggangan aliran Syiah dan kediktatoran tidak ada dalam agama ini. ”
“Saya berpesan kepada semua ulama dan para cendekiawan bahwa segala apa yang terjadi di Iran dengan ‘Revolusi Islam’nya sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, dan malah banyak bertentangan dengan nash-nash Qur’an yang sampai pada kita. Apa yang diperbuat Khomeini dengan pejabat-pejabatnya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Islam, ” tandas Ayatollah Hasan Thabathab (Naqdu Walayatil Faqih-Muhammad Maalullah, hal 27 & 28, 30 & 31)
Dikecam Dr. Musa Al-Musavi
Teori ‘Khomeinisme” atau “Walayatul faqih” juga mendapat kecaman dari Dr. Musa Al-Musavi, seorang cendekiawan Syiah Iran. Musavi berpendapat, “Walayatul faqih adalah satu bid’ah yang meyakini bahwa penguasa-penguasa merupakan wakil-wakil Imam Mahdi di zaman Ghaibah Kubra (Keghaiban Besar). Ide ini sesungguhnya berasal dari pemikiran huluhiyyah (inkarnasi) yang terdapat dalam dogma Kristiani yang meyakini bahwa Allah telah menjelma di dalam diri Al-Masih dan Al-Masih pula telah menjelma di dalam Paus. ”
Dr. Musavi juga mengatakan, “Konsep walayatul faqih bertentangan dengan nash al-Quran dan barangsiapa secara sengaja dan jelas menentang nash Allah, maka dia telah keluar dari Islam. ” (hal 73)
Membunuh Gurunya sendiri
Sementara Ayatollah Syariat Madari, guru Khomeini yang telah menganugerahkan istilah “Ayatollah” kepada Khomeini, di mana beliau juga seorang tokoh ulama Syiah yang ternama, ternyata juga menentang konsep yang diusung Khomeini. Akibatnya, setelah berkuasa, Khomeini mengirimkan 10. 000 tentaranya (!) untuk menyerang dan membunuh gurunya ini. Ayatollah Syariat Madari sependapat dengan ulama Syiah Iran lainnya yang membatasi kekuasaan faqih dalam bidang-bidang tertentu saja dan sama sekali tidak bisa mengklaim sebagai wakil dari Ratu Adil atau Imam Mahdi. (Dr. Musa Al-Musavi-At Tsauratuu Al-Baaisah, hal. 51),
Walayatul faqih secara ringkas berarti bahwa seorang penguasa yang faqih bertindak sebagai wakil dari Imam Mahdi dalam memerintah rakyatnya yang sudah putus asa karena Imam Mahdi yang sejati tidak dating-datang juga. Jadi menurut konsep yang juga dikenal sebagai ‘Khomeinisme’ ini, seorang penguasa merupakan seorang ‘pejabat pelaksana’ Imam Mahdi (Khomeini, Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal 74).
Konsep inilah yang ditentang banyak ulama Syiah Iran sendiri. Menurut Syiah, setiap negara yang ditegakkan sebelum kemunculan Imam Mahdi adalah tidak sah walau pemimpinnya berada di atas jalan yang benar. Al-Kulaini meriwayatkan dari Abi Bashir dari Abi Abdillah (Jaafar Shadiq) bahawa beliau berkata, “Setiap orang yang menjulang bendera sebelum Qaaim (Al-Mahdi) adalah taghut yang disembah selain dari Allah SWT. ” (Ar Raudhah Min Al-Kafi, hal 295). Jadi, menurut ulama Syiah ini, Khomeini adalah thagut.
Ini dkuatkan oleh pensyarah kitab Al-Kafi, Maula Muhammad Soleh Al-Maazan Daraani (wafat 1080 H) di dalam syarahnya terhadap kitab Al-Kafi yang dianggap sebagai syarah Al-Kafi yang muktamad menyebutkan bahawa, “walaupun orang yang memimpinnya itu menyeru kepada kebenaran” (Syarah Al-Kafi, jilid 2, hal 371)
Khomeinisme
Ajaran dan`trend’ yang dibawa Khomeini merupakan satu pecahan baru dari aliran Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah. Sebab itu dinamakan “Khomeinism”. Namun walau demikian, secara keseluruhan, Khomeini tetap berpegang teguh dengan aqidah dan ajaran Syiah yang diterima di kalangan Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah secara turun temurun. Tidak ada perbedaan aqidah dan ajaran Syiah antara Khomeini dengan yang lainnya. Hanya saja, Khomeini telah membawa konsep taqqiyah (berbohong demi kepentingannya) dengan seluas-luasnya sampai ke peringkat negara dan politik internasional.
Selain taqiyyah, Syiah Imamiyah juga meyakini secara akidah bahwa para Imam Dua Belas itu manusia yang maksum (terpelihara dari dosa besar dan kecil), sederajat dengan Rasulullah SAW. Khomeini berkata, ” Kita tidak dapat menggambarkan para Imam itu lupa dan lalai. ” (Al-hukumah Al-Islamiyyah, hal 91)
Syiah juga percaya bahwa al-Quran yang ada sekarang ini telah diselewengkan oleh para Shahabat Nabi selain Imam Ali r. A.). Ni`matullah Al-Jazaairi di dalam kitabnya Al-Anwar An Nu`maniyyah mengatakan “Sesungguhnya Al-Quran sebagaimana telah diturunkan tidaklah ditulis kecuali oleh Amirul Mukminin (Alia. A. S.) dengan wasiat daripada Nabi s. A. W. Maka selepas kewafatan Rasulullah s. A. W. Sayyidina Ali sibuk mengumpulkannya selama enam bulan. Setelah dia mengumpulkannya seperti ia diturunkan (kepada Rasulullah s. A. W.) dia lalu membawa Al-Quran itu kepada orang-orang yang telah berlaku curang setelah kewafatan Rasulullah s. A. W. (maksudnya Abu Bakar r. A., Umar r. A., dan Ustman r. A. (Al-Anwar An Nu’maniyyah jilid 2, hal 360).
Dalam bukunya “Kasyful Asrar” (hal 114) Khomeini secara implisit mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah diselewengkan karena tidak memuat nama para Imam Dua Belas. “Abu Bakar dan Umar telah banyak menyalahi hukum-hukum Allah. Mereka berdua telah banyak mempermainkan hukum-hukum Tuhan. Mereka telah menghalalkan dan mengharamkan dari pihak diri-sendiri. Mereka berdua telah melakukan kezaliman terhadap Fatimah dan anak cucunya” (Kasyful Asrar, hal 110).
Khomeini juga merupakan salah satu dari enam ulama Syiah yang telah mensahkan dan merestui kitab “Tuhfatul Awam” yang mengandungi doa supaya Allah melaknat Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan pengikut-pengikutnya. Doa itu antara lain berbunyi: “Ya Allah! Laknatilah dua berhala quraisy, dua jiblnya, dua taghutnya, dua orang yang malang dari kalangan mereka, dan dua orang anak perempuan mereka. Mereka berdua telah melanggar perintahMu, mengingkari wahyuMu, menolak kurniaanMu, dan durhaka kepada RasulMu. Mereka berdua telah mengubah agamaMU dan menyelewengkan KitabMu, mereka berdua telah menyintai musuh-musuhMu, menolak nikmat-nikmatMu dan telah menghentikan hukum-hukumMu ……. ”dan seterusnya. Dua orang itu adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Tentang Mut’ah, nikah sementara, Khomeini menulis bahwa Mut’ah boleh dilakukan dengan perempuan Yahudi, Nasrani, Majusi, juga dengan para pelacur (Khomeini, Tahrirul Wasilah, jilid 2 hal. 292).
Inilah sebagian pemaparan tentang Khomeini dan Syiahnya. Adalah ironis, Imam Jaafar As Shiddiq sendiri yang dianggap oleh golongan Syiah sebagai Imam Maksum mereka yang keenam pernah berkata, dan dikutip kata-katanya itu tokoh ulama Syiah, Syeikh At Thusi di dalam kitabnya “Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal” (sebuah kitab Syiah) yang menyatakan, ” Tidak ada satu pun ayat yang diturunkan oleh Allah tentang golongan munafiqin melainkan kandungan ayat itu pasti ada pada orang yang menganut faham Syiah. ” (Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal, hal. 1).
Dalam tulisan ketiga kita akan mengulas tentang Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang berada di balik kelahiran paham Syiah ini.(bersambung/rz)[www.eramuslim.com]
Fenomena Iran dan Hizbullah (Bag.1)
Diakui atau tidak, dalam bingkai politik internasional dewasa ini, Iran dengan Presiden Mahmud Ahmadinejad dan Hizbullah dengan Syekh Hassan Nasrallah-nya, telah menjadi ikon masyarakat dunia yang menggugat imperialisme dan hegemoni Amerika-Israel.
Keduanya—Iran dengan Ahmadinejad dan Hizbullah dengan Hasan Nasrallah—telah menjadi idola baru bagi jutaan Muslim dunia, tidak saja mereka yang menganut Syiah, tetapi juga kaum Muslim Sunni. Bahkan orang-orang non-Muslim pun banyak yang menyamakan keduanya dengan tokoh-tokoh revolusioner semacam Che Guevara.
Dunia terhenyak ketika Ahmadinejad dengan lantang menyerukan agar Israel dihapus keberadaannya dari peta dunia. Sikap politiknya yang sangat keras terhadap AS dan Zionis-Israel juga membuat namanya melambung hingga menjadi presiden yang disegani kawan dan lawan.
Terhadap Hizbullah dan Hassan Nasrallah, dunia pun dibuat terhenyak dan terkagum-kagum ketika berhasil menang perang selama sebulan di tahun 2006 melawan tentara Zionis-Israel. Sebuah kemenangan yang sangat memalukan negeri Zionis tersebut. Bukan rahasia lagi jika Hizbullah dan Iran memiliki kaitan yang sangat erat, sehingga keduanya mampu menaikkan ‘pamor’ Syiah ke pentas dunia internasional.
Di sisi lain, disadari atau tidak, fenomena ini menenggelamkan peran kalangan Sunni yang terbagi ke dalam dua kelompok besar: Kalangan Sunni yang berkuasa, para presiden, raja, dan pemimpin-pemimpin Arab, berhadap-hadapan secara diametral dengan tokoh-tokoh pejuang Sunni seperti HAMAS dan sebagainya.
Celakanya, para pemimpin Arab yang kebanyakan Sunni ini malah rela menjadi antek-antek Zionis-Israel dan juga Zionis-Amerika. Ke-bahlul-an mereka ini disorot habis-habisan oleh media internasional, sehingga kalangan Sunni semakin terpuruk pamornya dibandingkan yang lain. Bahkan dengan kekuatan media yang demikian menggurita, kubu Zionis Internasional dengan mudahnya menempelkan stigma ‘teroris’ kepada pejuang-pejuang Sunni seperti HAMAS dan lainnya.
Dengan sendirinya, banyak umat Islam dunia menjadikan Iran dan Hizbullah menjadi ikon perjuangan mereka dalam menentang eksistensi Zionis Internasional. Iran dan Hizbullah menjadi besar karena sikap politik yang ditampakkannya dewasa ini sungguh-sungguh telah merebut hati jutaan umat Islam sedunia. Ini merupakan kenyataan yang harus diakui.
Tanpa mengenyampingkan peran besar yang telah dimainkan Iran dan Hizbullah, sebagai umat Islam kita hendaknya bisa menyikapi fenomena ini dengan arif dan bijak. Hitam katakan hitam, putih katakan putih, walau pahit mungkin terasa di bibir.
Iran dan Hizbullah memang telah menjadi lokomotif perjuangan “Dunia Islam” melawan kesewenang-wenangan AS dan Zionis-Israel. Iran dan Hizbullah memang telah banyak memberi pelajaran bagaimana seharusnya umat Islam dunia harus bersikap terhadap kezaliman. Iran dan Hizbullah memang telah banyak memberikan contoh bagaimana seharusnya umat Islam dunia mampu menjaga izzah, harga diria, agama dan bangsanya. Kita patut mengacungkan jempol kepada mereka.
Namun kita juga harus jujur. Iran dan Hizbullah memiliki ideologi yang berbeda dengan Islam kebanyakan. Bahkan secara akidah, keduanya sebenarnya tidak bisa dianggap bagian dari kaum Muslimin. Latar belakang keduanya dan pergaulannya dengan umat Islam lainnya juga tidak boleh dilupakan. Ini yang membuat kita harus arif dan obyektif dalam menilai keduanya.
Dalam tulisan berseri ini akan dipaparkan hitam putihnya perjalanan sejarah keduanya, Iran dan Hizbullah, agar umat Islam bisa menilai dengan hati yang bersih, dengan akidah yang lurus, dengan pemahaman yang benar, tentang keduanya. Mudah-mudahan, dengan pemaparan ini kita bisa menilai apa adanya.
Salah satu yang paling mendasar adalah sebuah pertanyaan sederhana: Apakah Iran dan Hizbullah melawan Zionis-Israel dan AS diniatkan semata-mata untuk kejayaan Islam dan kejayaan umat-Nya? Wallahu’alam. Dalam Islam, segala sesuatu itu, berpahala atau tidak, dilihat dari niatnya.
Dalam tulisan kedua, kita akan melihat siapa sebenarnya Ayatollah Khomeini, seorang lelaki yang menjadi idola bagi Presiden Mahmud Ahmadinejad, rakyat Iran, dan juga idola bagi pemimpin Hizbullah Syekh Hassan Nasrallah.(bersambung/ Rizki Ridyasmara)
[www.eramuslim.com]
Keduanya—Iran dengan Ahmadinejad dan Hizbullah dengan Hasan Nasrallah—telah menjadi idola baru bagi jutaan Muslim dunia, tidak saja mereka yang menganut Syiah, tetapi juga kaum Muslim Sunni. Bahkan orang-orang non-Muslim pun banyak yang menyamakan keduanya dengan tokoh-tokoh revolusioner semacam Che Guevara.
Dunia terhenyak ketika Ahmadinejad dengan lantang menyerukan agar Israel dihapus keberadaannya dari peta dunia. Sikap politiknya yang sangat keras terhadap AS dan Zionis-Israel juga membuat namanya melambung hingga menjadi presiden yang disegani kawan dan lawan.
Terhadap Hizbullah dan Hassan Nasrallah, dunia pun dibuat terhenyak dan terkagum-kagum ketika berhasil menang perang selama sebulan di tahun 2006 melawan tentara Zionis-Israel. Sebuah kemenangan yang sangat memalukan negeri Zionis tersebut. Bukan rahasia lagi jika Hizbullah dan Iran memiliki kaitan yang sangat erat, sehingga keduanya mampu menaikkan ‘pamor’ Syiah ke pentas dunia internasional.
Di sisi lain, disadari atau tidak, fenomena ini menenggelamkan peran kalangan Sunni yang terbagi ke dalam dua kelompok besar: Kalangan Sunni yang berkuasa, para presiden, raja, dan pemimpin-pemimpin Arab, berhadap-hadapan secara diametral dengan tokoh-tokoh pejuang Sunni seperti HAMAS dan sebagainya.
Celakanya, para pemimpin Arab yang kebanyakan Sunni ini malah rela menjadi antek-antek Zionis-Israel dan juga Zionis-Amerika. Ke-bahlul-an mereka ini disorot habis-habisan oleh media internasional, sehingga kalangan Sunni semakin terpuruk pamornya dibandingkan yang lain. Bahkan dengan kekuatan media yang demikian menggurita, kubu Zionis Internasional dengan mudahnya menempelkan stigma ‘teroris’ kepada pejuang-pejuang Sunni seperti HAMAS dan lainnya.
Dengan sendirinya, banyak umat Islam dunia menjadikan Iran dan Hizbullah menjadi ikon perjuangan mereka dalam menentang eksistensi Zionis Internasional. Iran dan Hizbullah menjadi besar karena sikap politik yang ditampakkannya dewasa ini sungguh-sungguh telah merebut hati jutaan umat Islam sedunia. Ini merupakan kenyataan yang harus diakui.
Tanpa mengenyampingkan peran besar yang telah dimainkan Iran dan Hizbullah, sebagai umat Islam kita hendaknya bisa menyikapi fenomena ini dengan arif dan bijak. Hitam katakan hitam, putih katakan putih, walau pahit mungkin terasa di bibir.
Iran dan Hizbullah memang telah menjadi lokomotif perjuangan “Dunia Islam” melawan kesewenang-wenangan AS dan Zionis-Israel. Iran dan Hizbullah memang telah banyak memberi pelajaran bagaimana seharusnya umat Islam dunia harus bersikap terhadap kezaliman. Iran dan Hizbullah memang telah banyak memberikan contoh bagaimana seharusnya umat Islam dunia mampu menjaga izzah, harga diria, agama dan bangsanya. Kita patut mengacungkan jempol kepada mereka.
Namun kita juga harus jujur. Iran dan Hizbullah memiliki ideologi yang berbeda dengan Islam kebanyakan. Bahkan secara akidah, keduanya sebenarnya tidak bisa dianggap bagian dari kaum Muslimin. Latar belakang keduanya dan pergaulannya dengan umat Islam lainnya juga tidak boleh dilupakan. Ini yang membuat kita harus arif dan obyektif dalam menilai keduanya.
Dalam tulisan berseri ini akan dipaparkan hitam putihnya perjalanan sejarah keduanya, Iran dan Hizbullah, agar umat Islam bisa menilai dengan hati yang bersih, dengan akidah yang lurus, dengan pemahaman yang benar, tentang keduanya. Mudah-mudahan, dengan pemaparan ini kita bisa menilai apa adanya.
Salah satu yang paling mendasar adalah sebuah pertanyaan sederhana: Apakah Iran dan Hizbullah melawan Zionis-Israel dan AS diniatkan semata-mata untuk kejayaan Islam dan kejayaan umat-Nya? Wallahu’alam. Dalam Islam, segala sesuatu itu, berpahala atau tidak, dilihat dari niatnya.
Dalam tulisan kedua, kita akan melihat siapa sebenarnya Ayatollah Khomeini, seorang lelaki yang menjadi idola bagi Presiden Mahmud Ahmadinejad, rakyat Iran, dan juga idola bagi pemimpin Hizbullah Syekh Hassan Nasrallah.(bersambung/ Rizki Ridyasmara)
[www.eramuslim.com]
Meski Dikecam, Ahmadinejad Tetap Bicara Keras
Meski kehadirannya menjadi pembicara utama dalam forum di Kampus Columbia, Kota New York banyak ditentang, Presiden Mahmoud Ahmadinejad tetap keras
Hidayatullah.com--Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mendapat serangan bertubi-tubi dari audiens ketika berpidato pada forum di Columbia University New York Selasa kemarin. Namun, Ahmadinejad rupanya tidak terpengaruh dan bahkan sempat melontarkan sindiran yang membuat tertegun para hadirin. Berbicara dalam bahasa Farsi, Ahmadinejad menyindir, ''Saya kira para politikus yang memburu bom atom, menguji coba, membuat bom, sejatinya adalah idiot secara politik.''
Sekitar 700 hadirin kebingungan bereaksi. Sebagian memuji sindiran yang bermuatan semangat damai itu, sebagian lagi agak risih dengan pilihan kata idiot. Sebagian audiens yakin penerjemah mungkin kurang tepat menangkap nuansa sindiran.
Namun, secara keseluruhan suasana forum tanya jawab itu penuh dengan nuansa anti-Ahmadinejad. Dia tampil di universitas itu sehari menjelang berpidato di Majelis Umum PBB. Kehadirannya menyulut kontroversi sengit, khususnya karena sikap blak-blakannya soal Israel.
Pandangannya tentang Holocaust disoraki dan ditentang keras. Dia menerima kecaman itu dengan tenang, namun mengeluhkan ''perlakukan tak bersahabat'' dari civitas akademika.
Pada kesempatan itu, dia menegaskan bahwa Republik Islam Iran berhak melanjutkan program nuklir sipilnya. Dia membantah Teheran tengah mengupayakan senjata nuklir.
Namun sebelum selesai bicara, dipaksa duduk sekitar 10 menit oleh rektor universitas itu, Lee Bollinger. Bollinger telah dikecam kelompok-kelompok Yahudi dan politikus AS karena mengundang pemimpin Iran itu.
Namun, Bollinger pun melontarkan kata-kata pedas saat memberikan sambutan. ''Pak presiden, Anda tak ubahnya diktator yang picik dan keji,'' kata Bollinger. Dia menuduh presiden Iran itu menindak kejam para akademisi dan kaum homoseksual, serta membungkam pembangkang.
Soal Homoseks
Pada gilirannya, Ahmadinejad yang mengenakan setelan abu-abu dan kemeja putih tidak menjawab langsung kecaman Bollinger. Dia hanya mengatakan, sambutan sang rektor sungguh-sungguh tidak sopan untuk seorang tamu.
Ahmadinejad tersenyum dan kadang tertawa saat berbicara tentang budaya Iran dan pandangan dunia. Namun dia diolok-olok mahasiswa saat menyatakan praktik homoseksual tidak ada di republik Islam itu.
''Di Iran kami tidak menemui kaum homo seperti di negara Anda,'' katanya lantang. ''Di Iran tidak ada fenomena ini, saya tidak tahu siapa yang mengatakan kepada Anda tentang hal ini.''
Saat ditanya tentang komentarnya di masa lalu soal pembunuhan massal kaum Yahudi selama Perang Dunia II, dia mengatakan, ''Saya tidak mengatakan hal itu tak pernah terjadi. Saya hanya katakan insiden itu 'jangan dibesar-besarkan'.'' Sebelumnya Ahmadinejad menyatakan bersedia bertemu korban selamat Holocaust. Dia pernah menyerukan penghancuran Israel dan mempertanyakan jumlah korban Holocaust.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengabaikan perbincangan bahwa Amerika Serikat dan Iran di ambang perang. Dia menjelaskan bahwa Iran sedang bekerja sama dengan tim inspeksi nuklir PBB.
''Kami kira perbincangan itu hanyalah alat propaganda. Mengapa harus perang? Tanyanya.
[afp/sm/www.hidayatullah.com]
Hidayatullah.com--Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mendapat serangan bertubi-tubi dari audiens ketika berpidato pada forum di Columbia University New York Selasa kemarin. Namun, Ahmadinejad rupanya tidak terpengaruh dan bahkan sempat melontarkan sindiran yang membuat tertegun para hadirin. Berbicara dalam bahasa Farsi, Ahmadinejad menyindir, ''Saya kira para politikus yang memburu bom atom, menguji coba, membuat bom, sejatinya adalah idiot secara politik.''
Sekitar 700 hadirin kebingungan bereaksi. Sebagian memuji sindiran yang bermuatan semangat damai itu, sebagian lagi agak risih dengan pilihan kata idiot. Sebagian audiens yakin penerjemah mungkin kurang tepat menangkap nuansa sindiran.
Namun, secara keseluruhan suasana forum tanya jawab itu penuh dengan nuansa anti-Ahmadinejad. Dia tampil di universitas itu sehari menjelang berpidato di Majelis Umum PBB. Kehadirannya menyulut kontroversi sengit, khususnya karena sikap blak-blakannya soal Israel.
Pandangannya tentang Holocaust disoraki dan ditentang keras. Dia menerima kecaman itu dengan tenang, namun mengeluhkan ''perlakukan tak bersahabat'' dari civitas akademika.
Pada kesempatan itu, dia menegaskan bahwa Republik Islam Iran berhak melanjutkan program nuklir sipilnya. Dia membantah Teheran tengah mengupayakan senjata nuklir.
Namun sebelum selesai bicara, dipaksa duduk sekitar 10 menit oleh rektor universitas itu, Lee Bollinger. Bollinger telah dikecam kelompok-kelompok Yahudi dan politikus AS karena mengundang pemimpin Iran itu.
Namun, Bollinger pun melontarkan kata-kata pedas saat memberikan sambutan. ''Pak presiden, Anda tak ubahnya diktator yang picik dan keji,'' kata Bollinger. Dia menuduh presiden Iran itu menindak kejam para akademisi dan kaum homoseksual, serta membungkam pembangkang.
Soal Homoseks
Pada gilirannya, Ahmadinejad yang mengenakan setelan abu-abu dan kemeja putih tidak menjawab langsung kecaman Bollinger. Dia hanya mengatakan, sambutan sang rektor sungguh-sungguh tidak sopan untuk seorang tamu.
Ahmadinejad tersenyum dan kadang tertawa saat berbicara tentang budaya Iran dan pandangan dunia. Namun dia diolok-olok mahasiswa saat menyatakan praktik homoseksual tidak ada di republik Islam itu.
''Di Iran kami tidak menemui kaum homo seperti di negara Anda,'' katanya lantang. ''Di Iran tidak ada fenomena ini, saya tidak tahu siapa yang mengatakan kepada Anda tentang hal ini.''
Saat ditanya tentang komentarnya di masa lalu soal pembunuhan massal kaum Yahudi selama Perang Dunia II, dia mengatakan, ''Saya tidak mengatakan hal itu tak pernah terjadi. Saya hanya katakan insiden itu 'jangan dibesar-besarkan'.'' Sebelumnya Ahmadinejad menyatakan bersedia bertemu korban selamat Holocaust. Dia pernah menyerukan penghancuran Israel dan mempertanyakan jumlah korban Holocaust.
Dalam kesempatan itu, dia juga mengabaikan perbincangan bahwa Amerika Serikat dan Iran di ambang perang. Dia menjelaskan bahwa Iran sedang bekerja sama dengan tim inspeksi nuklir PBB.
''Kami kira perbincangan itu hanyalah alat propaganda. Mengapa harus perang? Tanyanya.
[afp/sm/www.hidayatullah.com]
Langganan:
Postingan (Atom)