Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2009

Mengapa Aku Tanggalkan Bikini untuk Niqab?

Sara Bokker, dahulu seorang aktris perempuan dan seorang model.Ia melepaskan bikini dan menggunakan cadar. Dengan cadar ia mengaku lebih bebas

Hidayatullah.com--Sebagai perempuan Amerika yang lahir di ‘Jantung’-nya Amerika, aku tumbuh dewasa seperti gadis-gadis lainnya dan terbiasa dengan kehidupan glamour kota besar. Kemudian aku pindah ke Florida, di Pantai Selatan Miami, di sebuah tempat populer bagi pencari kehidupan glamour. Tentu saja, saat itu aku juga melakukan apa yang dilakukan oleh umumnya gadis-gadis Barat. Aku hanya memperhatikan penampilan fisik dan daya tarikku, mengukur nilai reputasiku dari banyaknya perhatian orang lain padaku. Aku berolahraga teratur hingga menjadi pelatih pribadi di sebuah perumahan mewah pinggir laut dan menjadi pengunjung setia pantai yang ‘suka pamer tubuh’ serta sukses mencapai taraf kehidupan yang ‘penuh gaya dan berkelas’.

Tahun-tahun berlalu, kupahami bahwa ukuran nilai kepuasan diri dan kebahagiaanku bergeser pada semakin tingginya aku menggunakan daya tarik kewanitaanku. Saat itu, aku sungguh menjadi budak mode. Aku sungguh menjadi sandera dari penampilanku sendiri.

Oleh karena celah kosong antara kepuasan diri dan gaya hidup makin melebar, maka aku mencari perlindungan diri dari tindakan pelarian ke alkohol dan pesta-pesta, dengan cara mengikuti meditasi, menjadi aktivis, dan belajar kepercayaan-kepercayaan alternatif, dengan tujuan agar celah kosong itu terkoreksi dan terlihat lebih landai. Namun, akhirnya aku sadar bahwa semua itu hanya seperti obat pemati-rasa saja, yang sakitnya bisa terasa kembali, daripada sebuah pengobatan yang benar-benar efektif.

Kemudian terjadi peristiwa 11 September 2001. Sebagai saksi atas terjadinya serangan berkelanjutan pada Islam, pada nilai-nilai dan budaya Islam, dan adanya deklarasi yang berkonotasi negatif mengenai “Aktivis Salib Baru”, aku tergugah untuk mulai memperhatikan Islam. Hingga saat itu aku mengasosiasikan semua yang berbau Islam dengan perempuan-perempuan yang berbaju seperti ‘kemah’, tukang pukul isteri, harem, dan dunia teroris.

Sebagai aktivis pembebasan perempuan dan sebagai orang yang mengupayakan dunia yang lebih baik untuk semua, jalanku bersilangan dengan jalan aktivis lainnya yang telah memimpin tindakan reformasi dan keadilan untuk semua tanpa pandang bulu. Aku bergabung dalam kampanye pembimbing baruku yang saat itu masih berlangsung, salah satunya adalah reformasi pemilihan umum dan hak-hak sipil. Sekarang ini, kegiatan aktivisku sudah sangat berbeda. Daripada mendukung keadilan untuk sebagian orang secara ‘selektif’, aku belajar bahwa yang ideal seperti keadilan, kebebasan dan penghargaan benar-benar berarti dan intinya bersifat universal, lalu antara masing-masing kebaikannya dan dasar kebaikan ketiganya harus sejalan dan tidak konflik. Untuk pertama kalinya, aku mengetahui sesungguhnya arti “semua orang diciptakan sederajat”. Tetapi yang sangat penting, aku belajar bahwa hanya perlu keyakinan untuk melihat dunia yang satu dan untuk melihat penyatuan dalam penciptaan.

Suatu hari aku melewati sebuah buku yang dikonotasikan negatif di Barat – Al-Quran Yang Suci. Tadinya aku tertarik pada gaya dan pendekatan Al-Quran dan kemudian minatku terbangkitkan lebih dalam pada pandangannya tentang keberadaan makhluk, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan penciptaan itu sendiri. Aku rasa Qur’an dapat menjadi sumber pembuka wawasan dan pengetahuan untuk hati dan jiwa tanpa perlu penerjemah atau pastor.

Akhirnya aku sampai pada momen penting yang mengubah kehidupanku selanjutnya: Pemahaman aktivis yang baru kurasakan untuk kepuasan diri baru-baru ini, ternyata tidak berarti apapun dibandingkan dengan memeluk sebuah keyakinan yang disebut Islam, yang memungkinkan aku hidup damai sebagai Muslim yang bisa bermanfaat.

Aku membeli sebuah gaun panjang yang cantik dan penutup kepala, mirip gaya busana Muslimah dan dengannya aku berjalan di jalan dan lingkungan tetangga yang sama, yang beberapa hari sebelumnya aku masih mengenakan celana pendek, bikini atau gaya busana Barat yang berkelas. Walaupun masyarakat, wajah dan toko semuanya tetap sama, ada satu hal yang sangat berbeda, karena untuk pertama kalinya -aku bukan lagi-, rasa damai itu juga bukan yang sama sepanjang hidupku sebagai perempuan. Aku merasa seolah-olah semua rantai telah putus dan akhirnya aku bebas sebenar-benarnya. Sangat menyenangkan melihat wajah heran dari orang-orang lain dibandingkan dengan melihat wajah pemangsa yang siap menerkam korbannya, yang sering kutemui dulu. Tiba-tiba saja beban itu terangkat dari bahuku. Aku tidak lagi menghabiskan waktuku untuk berbelanja, membeli kosmetik, ke salon dan melatih fisik untuk penampilanku. Akhirnya aku bebas.

Dari semua tempat itu, aku menemukan Islamku tepat di pusat dari tempat yang sering disebut sebagian orang sebagai ‘tempat tersering terjadinya skandal di bumi’, bagaimanapun membuat semua itu menjadikannya penuh cinta dan spesial.

Walaupun bahagia dengan Hijab, aku menjadi ingin tahu mengenai Niqab (cadar), karena melihat peningkatan angka Muslimah yang mengenakannya. Aku bertanya kepada suamiku yang juga Muslim, yang menikah denganku setelah aku menjadi Muslimah, apakah aku diperbolehkan mengenakan Niqab atau cukup dengan hijab-ku yang sekarang telah kukenakan. Dengan santainya suamiku menanggapi bahwa ia percaya bahwa Hijab adalah sebuah kewajiban namun tidak demikian dengan Niqab. Saat itu, Hijabku terdiri dari penutup kepala yang menutupi semua rambutku kecuali wajah dan gaun hitam panjang yang longgar, biasa disebut dengan Abaya yang menutupi tubuh dari leher hingga kaki.

Satu setengah tahun berlalu, aku mengatakan kepada suamiku bahwa aku ingin mengenakan Niqab. Alasanku kali ini, bahwa aku merasa akan lebih menyenangkan Allah, Yang Maha Pencipta, dan akan meningkatkan rasa damai dalam diri bila berpakaian lebih tertutup. Ia mendukung keputusanku dan mengantarku membeli ‘Isdaal’, sebuah gaun hitam longgar yang menutup dari kepala hingga kaki dan ‘Niqab’ yang menutup seluruh kepalaku termasuk wajah kecuali mata.

Tak lama, media mulai memberitakan tentang para politikus, pemuka Vatikan, pendukung kebebasan, aktivis HAM palsu yang berkali-kali mengkritik pedas tentang Hijab, apalagi Niqab, yang bagi orang lain tampak sebagai bentuk yang sangat kejam terhadap kaum perempuan, juga dianggap gangguan dalam bersosialisasi dan baru-baru ini seorang pegawai Mesir mengatakan bahwa hal itu ‘sebagai tanda-tanda kemunduran’

Lalu aku menilai sebuah kemunafikan parah saat beberapa pemerintahan Barat dan juga kelompok pembela HAM palsu yang tergesa-gesa mencoba membela hak-hak perempuan ketika pemerintahan beberapa Negara lainnya memaksakan penggunaan kode berbusana tertentu untuk perempuan. Sekalipun begitu ‘Pejuang Kebebasan’ melihat sisi lainnya ketika kaum perempuan kehilangan hak-haknya, tidak dapat bekerja, belajar, hanya karena memilih untuk menggunakan haknya untuk mengenakan Niqab atau Hijab. Sekarang ini, terjadi peningkatan pembatasan kaum perempuan yang mengenakan Hijab atau Niqab dari kesempatan bekerja dan pendidikan, bukan hanya di bawah rejim yang totaliter seperti di Tunisia, Maroko dan Mesir, melainkan juga di Negara-negara demokrasi seperti Perancis, Belanda dan Inggris.

Saat ini, aku masih tetap menjadi aktivis perempuan, tepatnya aktivis perempuan Muslim, yang memanggil para Muslimah untuk mengambil tanggung jawab mereka memberi dukungan semampunya kepada suami agar menjadi Muslim yang baik. Untuk membesarkan anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang jujur dan bertanggungjawab, sehingga mungkin nanti bisa menjadi cahaya untuk kemanusiaan. Untuk memerintahkan kebaikan –kebaikan apapun- dan untuk mengharamkan kejahatan –kejahatan apapun-. Untuk berbicara tentang kebenaran dan kebajikan serta melawan semua keburukan-keburukan. Untuk memperjuangkan hak-hak kita mengenakan Niqab atau Hijab untuk menyenangkan Yang Maha Pencipta, apapun yang kita pilih. Dan juga penting, untuk membagi pengalaman mengenakan Niqab atau Hijab kepada teman perempuan yang mungkin belum pernah berkesempatan untuk mengerti apa arti sesungguhnya mengenakan Niqab atau Hijab bagi kita dan alasan-alasan kita sehingga, dengan penuh cinta, kita memeluknya.

Sebagian besar perempuan yang kuketahui mengenaikan Niqab adalah Muallaf Barat, sebagian dari mereka bahkan belum menikah. Yang lain mengenakan Niqab tanpa dukungan penuh dari keluarga maupun lingkungan dekatnya. Apa yang umumnya kita miliki adalah, bahwa semua itu adalah pilihan pribadi setiap orang atau masing-masing dari kita, yang tidak satupun dari kita menginginkan untuk menyerah.

Mau atau tidak mau, kaum perempuan dibombardir dengan gaya “berbusana minim hingga tanpa busana” secara virtual dalam setiap bentuk komunikasi dimanapun di dunia ini. Sebagai seorang bekas Non-Muslim, aku tetap menuntut hak-hak perempuan untuk sama-sama mengetahui mengenai Hijab, kebaikan-kebaikannya, dan kedamaian serta kebahagiaan yang dibawanya ke dalam kehidupan perempuan, seperti yang telah terjadi padaku.

Kemarin, bikini merupakan lambang kebebasanku, yang sesungguhnya membebaskanku dari kepercayaan-kepercayaanku dan sebagai manusia biasa.

Aku tidak dapat lebih gembira lagi karena telah menanggalkan bikiniku di Pantai Selatan dan gaya hidup Barat yang gemerlapan itu, untuk hidup damai dengan Penciptaku dan menikmati hidup di antara teman-teman sesama manusia sebagai pribadi yang layak menerimanya. Hal itu adalah alasanku untuk memilih mengenakan Niqab dan bersedia mati membela hakku yang tak mungkin bisa dicabut untuk mengenakannya.

Hari ini, Niqab adalah simbol baru pembebasan perempuan untuk menemukan siapa dirinya, apa tujuannya dan bagaimana bentuk hubungan yang dipilihnya agar bisa bersama Penciptanya.

Kepada perempuan yang menyerah terhadap anggapan buruk mengenai ketertutupan Hijab yang islami, aku bisa berkata: Engkau tidak mengetahui apa yang terlewatkan olehmu.

Kepadamu, penguasa peradaban yang korup dan tidak beruntung, juga para aktivis palsu, aku bisa berkata: Bawalah terus…

[Ditulis oleh Sara Bokker, dahulu seorang aktris/model/pelatih fitness dan seorang aktivis. Saat ini Sara Bokker adalah Direktur Komunikasi di “The March for Justice”, salah seorang pendiri ‘Global Sisters Network” dan Produser “Shock and Awe Gallery. Tulisan ini diambil dari situs www.marchforjustice.com. Cerita ini juga pernah dimuat di www.saudigazette.com.sa. Sara bisa dihubungi di srae@marchforjustice.com ]

Minggu, 23 Desember 2007

Catatan Haji Eramuslim 1428H: Menanti Imam Mahdi di Makkah (Bag.1)

Salah satu misteri dalam pelaksanaan ibadah haji yang tidak banyak disadari oleh umat Islam adalah peristiwa kemunculan Imam Mahdi dan proses pembaiatan terhadapnya di Makkah. Peristiwa akhir zaman ini terjadi selama berlangsungnya bulan haji, saat jutaan orang Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Baitullah.

Hal ini pula yang sempat mengusik keingintahuan Kami selama melakukan ibadah haji pada musim haji tahun 1428 Hijriyah ini. Apalagi seorang Ustadz di tanah air yang sangat konsern dengan masalah tersebut mengirim surat elektronik kepada Kami agar selama bulan haji ini Kami juga memperhatikan tanda-tanda di sekitar Kami apakah tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi sudah tampak atau belum. Dalam beberapa kali pertemuan dengan Kami di tanah air, beliau telah menyampaikan tanda-tanda akan datangnya Imam Mahdi.

Kami masih ingat tausiyah beliau, “Umur umat Islam tinggal beberapa tahun lagi. Kiamat akan segera tiba. Terlebih syarat-syaratnya sudah bermunculan dihadapan kita semua. ” Dalam Qur’an surat Muhammad ayat 8, Allah SWT berfirman, "Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat, (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba. Karena sesungguhnya telah datang syarat-syaratnya. "

Tanda-tanda yang dimaksud salah satunya tercantum dalam hadits shahih Nabi SAW yang diriwayatkan Muslim dari 'Umar bin Khaththab Radhiallaahu 'anhu, yang diriwayatkan pula oleh Ahmad dari Ibnu 'Abbas, "Apabila budak perempuan melahirkan tuannya, dan ketika penggembala kambing yang telanjang kaki serta kekurangan pakaian tinggal di gedung-gedung tinggi.."

Apa artinya dengan konteks zaman sekarang? "Sekarang ini, sudah banyak terjadi aneka kemaksiatan. Banyak dari hamba sahaya atau yang sekarang disebut sebagai pembantu, melahirkan anak dari hasil hubungan dengan majikannya, ” ujar Ustadz tersebut.

Lantas sudah banyak pula di zaman sekarang, orang-orang yang kekurangan pakaian (berpakaian namun tidak menutupi aurat) yang tinggal di gedung-gedung tinggi (apartemen), dan tingkah laku mereka sangat jahil dan tidak beda dengan penggembala kambing yang tidak terdidik.


Tanda-tanda lainnya adalah imraatus sibyaan (kekuasaan di tangan anak-anak). Itu bisa berarti bahwa penguasa di rumah tangga adalah anak-anak, bukan lagi orang tua. Atau, yang menjadi penguasa di masyarakat adalah para pemimpin yang berkarakter kekanak-kanakan, yakni mau menang sendiri, mengedepankan emosi, sewenang-wenang, dan sebagainya.

“Anak yang kurang ajar dan suka mengatur orangtua tidak cuma ada di Barat. Di negeri kita yang mayoritas Muslim pun terjadi, anak menyuruh ibunya begini-begitu. Seolah-olah anak itulah tuan, dan si ibu menjadi hamba sahaya, ” ujarnya lagi.

Lalu tanda lainnya adalah maraknya pemutusan silaturahim antar sesama Muslim. “Manusia sekarang ini rajin menggunakan telepon untuk bisnis, namun jarang sekali menelepon orangtua atau sanak-saudara. Alasannya sibuk, cari duit. Padahal menurut Rasulullah, barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya serta diperpanjang umurnya, maka bersilaturahimlah. Ini kan lucu dan terbalik. Kita sibuk cari duit tetapi justeru memutus silaturahim, " tambahnya lagi.

Kami ingat semua segala tausiyah beliau. Dan saat Kami berada di tengah jutaan jamaah haji yang menjadi tamu istimewa di Baitullah ini, tentu menemukan tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi bukan merupakan perkara yang mudah.


Allah SWT sejak mengutus Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa umat Nabi Muhammad SAW merupakan umat akhir zaman. Jadi, pengertian akhir zaman itu sudah berlaku sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW yang membawa Risallah Sempurna dan Terakhir, hingga hari kiamat. Kita ini tengah berada di dalam masa akhir zaman, yang tidak seorang pun tahu persis kapan kiamat itu datang.


Terbagi Lima

Menurut hadits shahih, masa akhir zaman ini terbagi menjadi lima. Pertama, masa kenabian, saat Rasulullah SAW masih hidup. Kedua, masa Khulafaur Rasyidin, mulai Abubakar, Umar, Usman, dan Ali. Ketiga, masa raja-raja menggigit (maalikan 'adhan), yaitu masa setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu sampai runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah (1924). Keempat, masa maalikan jabariyan (penguasa diktator atau penguasa yang zalim). Dan kelima, masa kembalinya sistem khilafah.

“Kita sekarang, umat Islam saat ini, tengah berada di dalam masa maalikan jabariyan atau penguasa yang zalim atau diktator. Umat Islam walau berjumlah banyak tetapi tidak memiliki kekuatan riil. Banyak tetapi seperti buih di lautan yang bisa dnegan mudah diombang-ambingkan oleh musuh-musuh Allah, ” ujarnya.

Kezaliman ini, sesuai dengan sunatullah, tidak akan berlangsung abadi. Ada sebagian umat Islam yang akan bangkit dan memimpin perlawanan terhadap kediktatoran tersebut. Hingga umat Islam akan berhadap-hadapan dengan musuh agama Allah yang sejati yakni kaum Yahudi. Kita akan berperang habis-habisan melawan Yahudi dan kemenangan akan didapat umat Islam. Yahudi akan hancur, bahkan Yahudi akan terus diburu hingga pohon-pohon dan batu pun berbicara, "Hai kaum Muslimin, di belakangku ada Yahudi yang bersembunyi!"

Seluruh pohon dan tumbuhan akan menunjukkan tempat persembunyian Yahudi kecuali satu pohon, yakni pohon gharqad yang merupakan pohon Yahudi. Jangan heran, sekarang pohon gharqad itu banyak ditanam oleh orang-orang Israel, untuk berlindung dari serangan kaum Muslimin.(m/bersambung)

[http://eramuslim.com/berita/]

Sabtu, 15 Desember 2007

Patani, Jauh Di Mata, Dekat di Hati

Memasuki Patani, mirip ke Aceh tempo dulu. Meski budaya Muslim Melayu sangat kental. Namun di mana-mana masih "diawasi" tentara



Hidayatullah.com--Alhamdulillah setelah tinggal di Bangkok nyaris dua bulan dan ngimpi ke Patani sejak lama, tiba-tiba saya dikontak National Reconciliation Council of Southern Thailand conflict untuk ikut sharing experiences tentang peacebuilding process pada workshop di Patani 7 – 8 December 2007. Kesampaian juga mimpinya. Allah SWT memang Maha Tahu keinginan hambanya.

Maka, tanggal 7 December 2007 pagi saya terbang ke Hatyai, kota terdekat dengan Patani yang punya bandara (karena di tiga propinsi Thailand, hanya Narathiwat yang punya Bandara, itupun hanya ada satu flight sehari ke Bangkok dengan NokAir, sungguh kayak anak tiri).

Tiba di Hatyai, atmosfir sudah sedikit berbeda. Di mobil jemputan kami ada stiker bertuliskan Allah dan Muhammad serta sang supirnya Muslim. Pemandangan yang sukar ditemui di Bangkok . Kalimat-kalimat Arab juga sudah mulai mudah dijumpai di Hatyai berdampingan dengan kalimat-kalimat Thailand . Tertera pada papan nama instansi pemerintah maupun swasta.

Perjalanan ke Patani memakan waktu satu setengah jam dari Hatyai. Jalanannya luas dan lengang dengan dua jalur terpisah yang mulus dan lebar. Hutan lebat diselingi pertanian rakyat adalah pemandangan utama perjalananan antara Hatyai dan Patani.

Sekedar informasi, Hatyai adalah kota terbesar di Provinsi Songkla yang penduduknya 50 % Muslim. Bersama-sama dengan provinsi Patani, Yala, dan Narathiwat, keempatnya dijuluki sebagai Patani Darussalam. Maka, nama Patani bisa berarti tiga makna : kota Patani, propinsi Patani, atau Patani Darussalam yang berarti gabungan dari empat propinsi mayoritas Muslim di Selatan Thailand .

Memasuki Patani, atmosfir semakin berbeda. Warna budaya Muslim Melayu semakin kental. Para Muslimah berjilbab, tua muda berseliweran dengan jalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum. Para lelaki tak banyak terlihat di jalan. Atmosfir kedua yang terasa berbeda adalah security yang amat ketat. Memasuki Patani berarti memasuki sekian banyak military checkpoint dan police checkpoint. Setiap beberapa kilo ada military checkpoint. Persis Aceh ketika jaman darurat militer sebelum tsunami dan Helsinki agreement.

Bagi mereka yang sering singgah ke Malaysia dan Aceh, sepintas pemandangan di Patani tak jauh berbeda. Yang menandakan bahwa ini wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol yang masih bertebaran disana sini dan bendera Thai serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di sekolah, hotel, maupun instansi pemerintah.

Penduduknya sendiri lebih banyak yang bercakap-cakap dalam bahasa Melayu Patani ketimbang bahasa Thai. Utamanya kaum dewasa dan tua. Bahasa Melayu mereka unik. Bahasa “percakapan kampong”-nya sulit ditangkap karena lidah seperti ditekuk, persis Melayu Kelantan Malaysia . Namun bahasa formalnya amat mirip dengan Melayu Malaysia , mudah dipahami oleh telinga Indonesia . Saya ikut shalat Jum’at di Masjid desa Tiraya dan bahasa khotbah Jum’at –nya amat mudah dicerna. Juga bahasa penyiar radio-nya. Cukup understandable.

Konflik di Patani, Yala, dan Narathiwat sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan ketika ketiga propinsi tersebut dilebur ke dalam kerajaan Siam melalui perjanjian sepihak oleh pemerintah kolonial Inggris pada awal abad 20.

Sebelum dipaksa bergabung dengan Siam, Patani adalah kesultanan Mandiri yang tersohor sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara. Konflik yang berskala meluas dan massif berlangsung mulai awal 2004. Ketika terjadi penyerbuan Masjid Krue Se di Patani pada April 2004 lalu pembantaian Tak Bai di Narathiwat pada Oktober 2004.

Kedua peristiwa tersebut menambah eskalasi konflik Thailand Selatan dan memaksa pemerintah Thai era Thaksin berpikir keras cara mengintegrasikan warga Thai beretnis Melayu (yang tak pernah merasa sebagai orang Thai ini) ke dalam Negara Thailand yang mayoritas Buddhist.

Sampai kini konflik masih berlangsung. Pekan lalu sebuah karaoke dibom oleh orang tak dikenal di luar kota Patani hingga tujuh orang tewas. Bulan Agustus silam dua rumah dibakar di desa Tiraya, tak jauh dari kota Patani.

Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan. Kendati kehidupan sepintas lalu berjalan normal. Mahasiswa tetap pergi kuliah ke kampus, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, jama’ah shalat tetap pergi ke masjid. Namun setelah maghrib kondisi berubah, jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas China dan Buddhist tak tampak di jalan-jalan umum. Sekali lagi, mirip Aceh di era sebelum Perjanjian Helsinki.

Konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai non Muslim keluar dari ketiga provinsi tersebut. Juga mengusir warga Muslim Patani sendiri yang bingung mengungsi kemana. Mengungsi ke Bangkok tak lebih baik karena juga tak merasa sebagai negeri sendiri. Ke Malaysia kendati secara kultural sama, namun juga mengundang masalah karena negaranya berbeda dan tak cukup ramah menampung ‘pendatang haram.’ Kampus Prince of Songkla University (PSU), Patani Campus, kini 90% mahasiswanya Muslim dari ketiga provinsi sekitar. Padahal dahulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi kesana. Tak heran, pemandangan di PSU Patani Campus mirip dengan kampus Indonesia . Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat shalat, makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok .

Jangan ditanya tentang bisnis, kendati ada Big C Superstore dan sekian banyak dealer mobil serta cellular company, namun bisnis mereka tak lebih hidup dari bagian Thai yang lain. Walau demikian, mesti diakui bahwa infrastruktur Patani amatlah baik, jalan luas dan mulus, listrik dan lifelines tersedia. Jauh lebih baik dari Aceh. Tapi tidak lebih baik dari propinsi Thai yang lain. Sedikit lebih baik-lah dari Narathiwat yang terkategori termiskin.

Satu hal yang menarik, di pasar tradisonal Patani, kedai DVD nya banyak menjual lagu-lagu dari artis Indonesia . Ada Laudya Cinthya Bella, Krisdayanti, dll. Tapi kebanyakan yang amat laris manis adalah Dangdut. Mereka bilang, kami suka dangdut Indonesia . Juga jangan tanya tentang sinetron Indonesia (yang juga mudah ditangkap dengan parabola), banyak yang hobi juga menonton sinetron dan film Indonesia .

Ada banyak cerita tentang Patani, kisah tentang semangat kaum minoritas bertahan di tengah mayoritas. Perjalanan kebingungan menentukan jati diri. Wajah kekerasan yang menahun dan melegenda. Ketidakpastian dan kecemasan yang selalu mendominasi hari-hari. Hidup terasing di negerinya sendiri…

Patani memang terbilang dekat dari Bangkok, tapi bagi sebagian besar warga Thai terasa begitu jauh (di hati). [Heru Susetyo, sedang melanjutkan di Mahidol University/www.hidayatullah.com]