Oleh Adnin Armas
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.
Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.
Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.
Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan. Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah institusi-institusi pendidikan memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan. Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi ummat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Institusi pendidikan perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan akal dan jiwanya, memiliki akal yang pintar dan sifat-sifat dan jiwa yang baik, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, memiliki pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan-kesalahan, serta memiliki hikmah dan keadilan.
Oleh sebab itu juga, ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam institusi pendidikan seyogianya dibangun di atas Wahyu yang membimbing kehidupan manusia. Kurikulum yang ada perlu mencerminkan memiliki integritas ilmu dan amal, fikr dan zikr, akal dan hati. Pandangan hidup Islam perlu menjadi paradigma anak didik dalam memandang kehidupan.
Dalam Islam, Realitas dan Kebenaran bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran didasarkan kepada dunia yang nampak dan tidak nampak; mencakup dunia dan akhirat, yang aspek dunia harus dikaitkan dengan aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam).
Jadi, institusi pendidikan Islam perlu mengisoliir pandangan hidup sekular-liberal yang tersurat dan tersirat dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan modern saat ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant. Dengan perubahan-perubahan kurikulum, lingkungan belajar yang agamis, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam, maka institusi-institusi pendidikan Islam akan membebaskan manusia dari kehidupan sekular menuju kehidupan yang berlandaskan kepada ajaran Islam. Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang dengan ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Tuhannya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan yang lain dalam masyarakatnya, dan berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang beradab. [www.insistnet.com]
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 September 2007
Selasa, 25 September 2007
Homeschooling Ala Pesantren
Setiap orang tua menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Berbagai jenis sekolah saat ini telah muncul bagai jamur di musim penghujan. Semua mengiklankan diri sebagai sekolah dengan nilai plus agar dipilih orangtua bagi anaknya. Ada yg memakai bahasa asing, menyediakan beragam aktivitas di luar kelas, ruang kelas ber-AC, hingga sekolah yg mengklaim diri menggabungkan kurikulum luar negeri dan kurikulum berbasis kompetensi dari Diknas.
Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak kunjung bisa memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan. Baik karena mutu pendidikan yang rendah, kemerosotan akhlak siswa, juga ketidakmampuan lulusan sekolah dalam menghadapi realitas permasalahan di lingkungan masyarakat. Betapa banyak anak sekolah justru menjadi anggota geng kenakalan remaja, tawuran, dan mengkonsumsi narkoba lewat pergaulan sesama teman sekolah. Banyak pula lulusan sekolah justru menjadi penganggur karena sekolah lebih mengajarkan keseragaman dan bukan kreatifitas. Pakar pemasaran Jack Trout, pernah menulis buku yang sangat berpengaruh, Differentiate or Die yang menegaskan bahwa di era saat ini perbedaan adalah sangat penting dalam berkompetisi. Tanpa ada pembedaan maka produk akan mudah dilupakan konsumen. Demikian pula keseragaman yg dibentuk sekolah justru akan mematikan potensi siswa untuk kreatif dan survive dilapangan yg penuh persaingan.
Mendidik Tidak Sama dengan Menyekolahkan
Berbincang masalah homeshooling maka topik pertanyaan kini bergeser. Dari mempertanyakan legalitas lulusannya kepada pertanyaan yang lebih esensial, mampukah orangtua mendidik anaknya sendiri sebaik pendidikan formal? Ini karena undang-undang pendidikan saat ini telah mengakui pendidikan luar sekolah tidak saja dapat menjadi pelengkap namun juga dapat menggantikan pendidikan sekolah. Tinggal seberapa kesiapan orangtua mendidik anak-anaknya.
Di samping alasan tidak puas dengan hasil pendidikan sekolah saat ini, alasan kendala jarak, atau keinginan agar orang tua lebih banyak berinteraksi dengan anak, ada pertimbangan lain yang menarik yaitu keinginan menanamkan nilai-nilai Islam sesuai keinginan orangtua. Ketiadaan jaminan bahwa anak dididik di sekolah sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai orangtua membuat sebagian orangtua bersikeras mendidik anaknya sendiri di rumah.
Pendidikan juga meliputi pembentukan kepribadian, bukan hanya mengajarkan pengetahuan. Bukan sekedar know how tetapi being. Untuk membentuk kepribadian maka rumusnya adalah pembiasaan. Pembiasaan ini baru berhasil jika lingkungan mendukung. Harus ada contoh konkrit yang bisa ditiru dan jadi panutan. Harus ada pengalaman sehari-hari yang langsung dirasakan. Tentu dengan konsekuensi merasakan hukuman yang kadang berupa kegagalan yang pahit. Lingkungan sekolah dalam hal ini seringkali gagal dalam menyajikan realitas yg membentuk kepribadian yg tangguh. Yang lebih banyak diberikan adalah teori dan pelajaran untuk dihafalkan.
Betapa menjamurnya sinetron TV saat ini yang menggambarkan kehidupan penuh glamour dan hanya menjual mimpi. Sering sinetron mengumbar kekerasan dan mengeksploitasi seks untuk mendapatkan rating pemirsa yang tinggi. Sinetron seperti ini sungguh tidak layak ditonton. Lantas bagaimana membatasi dan mensensor tontonan anak jika ternyata orangtuanya sendiri hobinya nonton sinetron? Bagamana pula membatasi nonton film jika ternyata film kartun anak pun tidak lagi aman ditonton? Beberapa film seri anak seperti Dragon Ball, detektif Conan, Sincan juga SamuraiX jauh dari tontonan yang mendidik. Film anak itu penuh dengan adegan kekerasan, pembunuhan dan prilaku kasar serta prilaku buruk lain yang tak pantas dilihat anak.
Kurikulum dan Materi Belajar
Orang tua homeschoooling harus kritis dalam mengajarkan materi kepada anak-anaknya. Untuk apa materi ini diajarkan jika kemudian tidak bermanfaat bagi anak pada kehidupannya. Setiap sesuatu yang diajarkan atau dibacakan untuk anak selalu dicoba untuk menterjemahkan sebaik mungkin ke dalam realitas. Ini yang berbeda dengan sistem sekolah yang seringkali hanya mengajarkan pengetahuan hanya sekedar untuk dihafal tanpa melihat kontek permasalahan yang dihadapi anak. Anak-anak homeschooler belajar sangat dini perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dibandingkan mengetahui hakikat sesuatu.
Dalam hal kecepatan belajar maka sistem homeschooling sangat adaptif dengan kemampuan anak. Hasilnya bukan lebih lambat, banyak di antara anak homeschooler baru berumur 16 tahun tetapi sudah menyelesaikan materi SMA. Homechooling menggunakan jadwal belajar tidak ketat seperti di sekolah tetapi disesuaikan dengan kebutuhan materi yang dipelajari. Mereka juga tidak mengenal liburan panjang sekolah karena mereka belajar hampir sepanjang tahun di saat liburan sekalipun.
Salah satu kunci sukses belajar di luar sekolah adalah antusiasme. Hampir bisa dipastikan hanya mereka yang antusias yang akan berhasil di’sekolah’ yang aturannya sangat fleksibel ini. Prinsipnya seperti kata-kata bijak Aristotle:We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. Dan untuk membangun antusiasme maka metode yg paling efektif adalah dengan mengikuti hobi anak dan cara apa yang paling mereka sukai.
Saat ini tersedia banyak sekali sumber belajar. Baik buku-buku ajar, ensiklopedia, CD pendidikan, chanel TV pendidikan, sampai internet sebagai sumber informasi yang berlimpah. Jika sumber belajar melimpah maka anak dapat mempelajari lebih banyak dari pada tuntutan kurikulum atau tuntutan orangtuanya. Keingintahuan anak seringkali tumbuh begitu kuat sehingga sanggup belajar dalam waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi. Di negara-negara maju tidak sedikit keluarga yang memilih menyekolahkan anaknya di rumah dengan alasan banyak lembaga pendidikan resmi yang menyediakan kurikulum dan silabus sejak tingkat TK sampai perguruan tinggi. Media internet digunakan secara aktif untuk mengirimkan bahan belajar maupun bahan test secara online.
Sistem Ujian
Dalam mengerjakan bahan ujian, maka kejujuran orangtua sangat diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau dibantu. Kebanyakan pembelajar alam tidak lagi terlalu mengejar nilai bagus. Mereka tidak lagi disibukkan dengan mengejar gengsi rangking kelas dan lebih menekankan mengajarkan kejujuran pada anak akan hasil kemampuan diri yang sesungguhnya.
Untuk homeschooler dengan lisensi asing lewat internet maka lembar jawaban ujian dikirim kembali ke lembaga pendidikan jarak jauh untuk dinilai. Jika lulus ujian maka anak akan mendapat sertifikat sehingga bisa melanjutkan ke jenjang berikut. Banyak lembaga pendidikan internasional jarak jauh yang sertifikatnya diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar negeri. Lulusan homeschoooling terbukti ada yg diterima di UI.
Peserta homeschool memang harus mengikuti ujian kesetaraan bila ingin kembali melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Mereka bisa mendapat ijasah kesetaraan di pendidikan nasional melalui paket ujian A (SD), B (SMP), dan C (SMA). Jika mereka lulus, berarti kemampuannya sudah setara.
Sebelum itu, mereka mesti mendaftar di lembaga pendidikan nonformal, seperti pusat kegiatan belajar masyarakat atau lembaga kursus yang menyediakan persiapan dan ujian tersebut. Saat ini terdapat lebih dari 3.000 lembaga yang tersebar di berbagai daerah. Setelah terdaftar, mereka dapat mengikuti proses pendidikan dalam waktu tertentu di sana, baru kemudian ikut ujian. Berbekal tanda lulus ujian itu, homeschooler bisa mendaftar ke sekolah formal yang ada.
Sistem Belajar
Homeschooling menggunakan sistem belajar yang disesuaikan dengan kondisi anak dan orangtua. Salah satu cara belajar homeschoooling adalah sistem campuran. Sistem belajar yang sebagian di rumah, separuh lagi di Morning Star Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah. Setiap anak bersekolah hanya tiga hari dalam seminggu, yakni Senin-Rabu-Jumat atau Selasa-Kamis-Sabtu. Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid. MSA juga menyediakan modul panduan belajar berstandar internasional. Tiap modul seharga Rp 2,5 juta untuk setahun belajar.
Program homeschool model MSA ini telah ada sejak tahun 2002. Diawali 20 keluarga dengan 50 anak, yang berkumpul di Jakarta Selatan untuk menyelenggarakan pendidikan bersama. Jadilah tempat itu sebagai komunitas untuk bersosialisasi dan belajar. Kini tercatat 150 keluarga dan sekitar 300 anak bergabung di MSA. Sayangnya MSA yang merupakan lisesi luar negri ini adalah asosiasi pendidikan kristen, sehingga banyak keluarga muslim belum menerima dan ingin mengembangkan model homeschooling yang islami. Homeschooling ala pesantren.
Di daerah juga muncul pendidikan alternatif yang berbasis masyarakat. Sistem sekolah model SMP terbuka seperti SMP Alternatif Qoryah Thoyyibah di Salatiga dan SMP Alternatif Otek Makmur di dusun Glinggang Kemusu Boyolali adalah sekolah yang relatif ‘bebas’ dalam menentukan kurikulum dan sistem pembelajaran. Dan kalau dicermati sesungguhnya program TV seperti Kontes AFI, KDI, Pildacil atau API juga salah satu bentuk homeschooling. Bahkan tradisi pesantren lama sesungguhnya pun menerapkan prinsip homeschooling. Santri-santri tidak masuk kelas berdasarkan usia tertentu tetapi pembelajaran menggunakan sistem sorogan dan bandongan. Santri-santri yg rajin dan pandai bisa lulus lebih cepat. Tapi ada juga yg bertahun-tahun tidak lulus pesantren karena cara belajarnya nyantai.
Komunitas ‘Berkemas’ binaan Ibu Yayah Komariah
Apa yg diusahakan oleh Ibu Yayah Komariah, ketua Komunitas Homeschooling BERKEMAS, patut dijadikan rujukan. Berangkat dari keprihatinan nasib pendidikan anak-anaknya yang sering ia tinggalkan karena sibuk mengajar SDIT yang fullday. Sementara itu anaknya sendiri tidak mampu sekolah di tempat ia mengajar arena biayanya yg tinggi. Daripada mengurusi anak orang lain tetapi anak sendiri tidak terurus maka ia keluar dari tempat mengajar dan mulai mengajar anaknya sendiri di rumah. Beberapa anak tetangga kemudian bergabung. Pengajarnya pun mulai beragam karena Berkemas memanfaatkan keberadaan tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan sekitar. (Takmir masjid, pensiunan dinas perkebunan, LSM).
Dibutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk mengatasi berbagai kendala yg muncul. Bahan-bahan belajar cukup difoto copy. Pengalaman mengajar dengan diterapkan kepada anak-anaknya sendiri. Jika ingin mengajarkan alat transportasi anak-anak Berkemas langsung diajak keliling kota dengan menggunakan alat transportasi yg tersedia. Naik bus kota, naik Transjakarta atau Busway kemudian naik kereta. Selain mengunjungi terminal bus dan stasiun kereta anak-anak juga diajak ke bandara dan pelabuhan. Anak-anak mengalami sendiri naik berbagai alat transportasi lalu diminta menuliskan pengalamannya.
Pendapat para tokoh
Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan, materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya harmonis.
Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak kunjung bisa memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan. Baik karena mutu pendidikan yang rendah, kemerosotan akhlak siswa, juga ketidakmampuan lulusan sekolah dalam menghadapi realitas permasalahan di lingkungan masyarakat. Betapa banyak anak sekolah justru menjadi anggota geng kenakalan remaja, tawuran, dan mengkonsumsi narkoba lewat pergaulan sesama teman sekolah. Banyak pula lulusan sekolah justru menjadi penganggur karena sekolah lebih mengajarkan keseragaman dan bukan kreatifitas. Pakar pemasaran Jack Trout, pernah menulis buku yang sangat berpengaruh, Differentiate or Die yang menegaskan bahwa di era saat ini perbedaan adalah sangat penting dalam berkompetisi. Tanpa ada pembedaan maka produk akan mudah dilupakan konsumen. Demikian pula keseragaman yg dibentuk sekolah justru akan mematikan potensi siswa untuk kreatif dan survive dilapangan yg penuh persaingan.
Mendidik Tidak Sama dengan Menyekolahkan
Berbincang masalah homeshooling maka topik pertanyaan kini bergeser. Dari mempertanyakan legalitas lulusannya kepada pertanyaan yang lebih esensial, mampukah orangtua mendidik anaknya sendiri sebaik pendidikan formal? Ini karena undang-undang pendidikan saat ini telah mengakui pendidikan luar sekolah tidak saja dapat menjadi pelengkap namun juga dapat menggantikan pendidikan sekolah. Tinggal seberapa kesiapan orangtua mendidik anak-anaknya.
Di samping alasan tidak puas dengan hasil pendidikan sekolah saat ini, alasan kendala jarak, atau keinginan agar orang tua lebih banyak berinteraksi dengan anak, ada pertimbangan lain yang menarik yaitu keinginan menanamkan nilai-nilai Islam sesuai keinginan orangtua. Ketiadaan jaminan bahwa anak dididik di sekolah sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai orangtua membuat sebagian orangtua bersikeras mendidik anaknya sendiri di rumah.
Pendidikan juga meliputi pembentukan kepribadian, bukan hanya mengajarkan pengetahuan. Bukan sekedar know how tetapi being. Untuk membentuk kepribadian maka rumusnya adalah pembiasaan. Pembiasaan ini baru berhasil jika lingkungan mendukung. Harus ada contoh konkrit yang bisa ditiru dan jadi panutan. Harus ada pengalaman sehari-hari yang langsung dirasakan. Tentu dengan konsekuensi merasakan hukuman yang kadang berupa kegagalan yang pahit. Lingkungan sekolah dalam hal ini seringkali gagal dalam menyajikan realitas yg membentuk kepribadian yg tangguh. Yang lebih banyak diberikan adalah teori dan pelajaran untuk dihafalkan.
Betapa menjamurnya sinetron TV saat ini yang menggambarkan kehidupan penuh glamour dan hanya menjual mimpi. Sering sinetron mengumbar kekerasan dan mengeksploitasi seks untuk mendapatkan rating pemirsa yang tinggi. Sinetron seperti ini sungguh tidak layak ditonton. Lantas bagaimana membatasi dan mensensor tontonan anak jika ternyata orangtuanya sendiri hobinya nonton sinetron? Bagamana pula membatasi nonton film jika ternyata film kartun anak pun tidak lagi aman ditonton? Beberapa film seri anak seperti Dragon Ball, detektif Conan, Sincan juga SamuraiX jauh dari tontonan yang mendidik. Film anak itu penuh dengan adegan kekerasan, pembunuhan dan prilaku kasar serta prilaku buruk lain yang tak pantas dilihat anak.
Kurikulum dan Materi Belajar
Orang tua homeschoooling harus kritis dalam mengajarkan materi kepada anak-anaknya. Untuk apa materi ini diajarkan jika kemudian tidak bermanfaat bagi anak pada kehidupannya. Setiap sesuatu yang diajarkan atau dibacakan untuk anak selalu dicoba untuk menterjemahkan sebaik mungkin ke dalam realitas. Ini yang berbeda dengan sistem sekolah yang seringkali hanya mengajarkan pengetahuan hanya sekedar untuk dihafal tanpa melihat kontek permasalahan yang dihadapi anak. Anak-anak homeschooler belajar sangat dini perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dibandingkan mengetahui hakikat sesuatu.
Dalam hal kecepatan belajar maka sistem homeschooling sangat adaptif dengan kemampuan anak. Hasilnya bukan lebih lambat, banyak di antara anak homeschooler baru berumur 16 tahun tetapi sudah menyelesaikan materi SMA. Homechooling menggunakan jadwal belajar tidak ketat seperti di sekolah tetapi disesuaikan dengan kebutuhan materi yang dipelajari. Mereka juga tidak mengenal liburan panjang sekolah karena mereka belajar hampir sepanjang tahun di saat liburan sekalipun.
Salah satu kunci sukses belajar di luar sekolah adalah antusiasme. Hampir bisa dipastikan hanya mereka yang antusias yang akan berhasil di’sekolah’ yang aturannya sangat fleksibel ini. Prinsipnya seperti kata-kata bijak Aristotle:We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. Dan untuk membangun antusiasme maka metode yg paling efektif adalah dengan mengikuti hobi anak dan cara apa yang paling mereka sukai.
Saat ini tersedia banyak sekali sumber belajar. Baik buku-buku ajar, ensiklopedia, CD pendidikan, chanel TV pendidikan, sampai internet sebagai sumber informasi yang berlimpah. Jika sumber belajar melimpah maka anak dapat mempelajari lebih banyak dari pada tuntutan kurikulum atau tuntutan orangtuanya. Keingintahuan anak seringkali tumbuh begitu kuat sehingga sanggup belajar dalam waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi. Di negara-negara maju tidak sedikit keluarga yang memilih menyekolahkan anaknya di rumah dengan alasan banyak lembaga pendidikan resmi yang menyediakan kurikulum dan silabus sejak tingkat TK sampai perguruan tinggi. Media internet digunakan secara aktif untuk mengirimkan bahan belajar maupun bahan test secara online.
Sistem Ujian
Dalam mengerjakan bahan ujian, maka kejujuran orangtua sangat diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau dibantu. Kebanyakan pembelajar alam tidak lagi terlalu mengejar nilai bagus. Mereka tidak lagi disibukkan dengan mengejar gengsi rangking kelas dan lebih menekankan mengajarkan kejujuran pada anak akan hasil kemampuan diri yang sesungguhnya.
Untuk homeschooler dengan lisensi asing lewat internet maka lembar jawaban ujian dikirim kembali ke lembaga pendidikan jarak jauh untuk dinilai. Jika lulus ujian maka anak akan mendapat sertifikat sehingga bisa melanjutkan ke jenjang berikut. Banyak lembaga pendidikan internasional jarak jauh yang sertifikatnya diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar negeri. Lulusan homeschoooling terbukti ada yg diterima di UI.
Peserta homeschool memang harus mengikuti ujian kesetaraan bila ingin kembali melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Mereka bisa mendapat ijasah kesetaraan di pendidikan nasional melalui paket ujian A (SD), B (SMP), dan C (SMA). Jika mereka lulus, berarti kemampuannya sudah setara.
Sebelum itu, mereka mesti mendaftar di lembaga pendidikan nonformal, seperti pusat kegiatan belajar masyarakat atau lembaga kursus yang menyediakan persiapan dan ujian tersebut. Saat ini terdapat lebih dari 3.000 lembaga yang tersebar di berbagai daerah. Setelah terdaftar, mereka dapat mengikuti proses pendidikan dalam waktu tertentu di sana, baru kemudian ikut ujian. Berbekal tanda lulus ujian itu, homeschooler bisa mendaftar ke sekolah formal yang ada.
Sistem Belajar
Homeschooling menggunakan sistem belajar yang disesuaikan dengan kondisi anak dan orangtua. Salah satu cara belajar homeschoooling adalah sistem campuran. Sistem belajar yang sebagian di rumah, separuh lagi di Morning Star Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah. Setiap anak bersekolah hanya tiga hari dalam seminggu, yakni Senin-Rabu-Jumat atau Selasa-Kamis-Sabtu. Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid. MSA juga menyediakan modul panduan belajar berstandar internasional. Tiap modul seharga Rp 2,5 juta untuk setahun belajar.
Program homeschool model MSA ini telah ada sejak tahun 2002. Diawali 20 keluarga dengan 50 anak, yang berkumpul di Jakarta Selatan untuk menyelenggarakan pendidikan bersama. Jadilah tempat itu sebagai komunitas untuk bersosialisasi dan belajar. Kini tercatat 150 keluarga dan sekitar 300 anak bergabung di MSA. Sayangnya MSA yang merupakan lisesi luar negri ini adalah asosiasi pendidikan kristen, sehingga banyak keluarga muslim belum menerima dan ingin mengembangkan model homeschooling yang islami. Homeschooling ala pesantren.
Di daerah juga muncul pendidikan alternatif yang berbasis masyarakat. Sistem sekolah model SMP terbuka seperti SMP Alternatif Qoryah Thoyyibah di Salatiga dan SMP Alternatif Otek Makmur di dusun Glinggang Kemusu Boyolali adalah sekolah yang relatif ‘bebas’ dalam menentukan kurikulum dan sistem pembelajaran. Dan kalau dicermati sesungguhnya program TV seperti Kontes AFI, KDI, Pildacil atau API juga salah satu bentuk homeschooling. Bahkan tradisi pesantren lama sesungguhnya pun menerapkan prinsip homeschooling. Santri-santri tidak masuk kelas berdasarkan usia tertentu tetapi pembelajaran menggunakan sistem sorogan dan bandongan. Santri-santri yg rajin dan pandai bisa lulus lebih cepat. Tapi ada juga yg bertahun-tahun tidak lulus pesantren karena cara belajarnya nyantai.
Komunitas ‘Berkemas’ binaan Ibu Yayah Komariah
Apa yg diusahakan oleh Ibu Yayah Komariah, ketua Komunitas Homeschooling BERKEMAS, patut dijadikan rujukan. Berangkat dari keprihatinan nasib pendidikan anak-anaknya yang sering ia tinggalkan karena sibuk mengajar SDIT yang fullday. Sementara itu anaknya sendiri tidak mampu sekolah di tempat ia mengajar arena biayanya yg tinggi. Daripada mengurusi anak orang lain tetapi anak sendiri tidak terurus maka ia keluar dari tempat mengajar dan mulai mengajar anaknya sendiri di rumah. Beberapa anak tetangga kemudian bergabung. Pengajarnya pun mulai beragam karena Berkemas memanfaatkan keberadaan tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan sekitar. (Takmir masjid, pensiunan dinas perkebunan, LSM).
Dibutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk mengatasi berbagai kendala yg muncul. Bahan-bahan belajar cukup difoto copy. Pengalaman mengajar dengan diterapkan kepada anak-anaknya sendiri. Jika ingin mengajarkan alat transportasi anak-anak Berkemas langsung diajak keliling kota dengan menggunakan alat transportasi yg tersedia. Naik bus kota, naik Transjakarta atau Busway kemudian naik kereta. Selain mengunjungi terminal bus dan stasiun kereta anak-anak juga diajak ke bandara dan pelabuhan. Anak-anak mengalami sendiri naik berbagai alat transportasi lalu diminta menuliskan pengalamannya.
Pendapat para tokoh
Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan, materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya harmonis.
Dunia Tanpa Sekolah, Mungkinkah? (Kisah Nyata Seorang Anak Usia 15 tahunyang Terpenjara oleh Sekolah Formal)
Penulis : M.Izza Ahsin
Tebal : 252 hlm
Penerbit : Read! Publishing House (Kelompok Mizan)
Cetakan : I, April 2007
Di negara ini, anak sekolah yang drop out banyak. Ada berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Yang paling utama, faktor ekonomi. Alias ketidakmampuan membayar ongkos pendidikan yang semakin mahal dari hari ke hari. Namun, di kota kecil di Jawa Tengah, Salatiga, ada seorang anak sekolah menengah pertama (SMP) memutuskan untuk berhenti sekolah tiga bulan menjelang ujian nasional (UN). Bukan karena takut tak lulus melainkan ingin konsentrasi menulis.
Muhammad Izza Ahsin Sidqi, menuliskan kisah yang dialaminya dalam buku ini. Buku ini menuturkan kegalauan seorang Izza yang merasa terkungkung di dalam penjara yang bernama sekolah. Meski ia bersekolah di sekolah paling favorit dan terbaik di kotanya, tetapi ia tak menemukan kondisi ideal di sana. Guru-guru yang masih mengajar secara konvensional dan senang “meneror” secara fisik maupun mental dengan dalih disiplin dan supaya anak didik menguasai bahan ajar membuat Izza yang dkenal sebagai murid pendiam dan bukan pembuat onar “memberontak”. Puncaknya, ia meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk berhenti sekolah. Apa reaksi sang ayah dan ibu? Marah besar. Apalagi mereka adalah guru-guru berprestasi. Apa kata dunia jika anak guru tak sekolah?
Izza bukanlah anak yang bodoh. Kebiasaan membaca buku-buku “berat” sedari sekolah dasar (SD) membuatnya punya wawasan yang melebihi seorang mahasiswa sekalipun. Gayanya menulis menunjukkan betapa ia telah banyak belajar dari buku-buku yang dibacanya itu. Dalam bukunya ini Izza mengisahkan bagaimana ia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya selama delapan bulan agar mengijinkannya berhenti sekolah. Adu argumen, bahkan pecahan piring karena bantingan sang ayah mewarnai diskusi-diskusi mereka.
Pada halaman 30, pembaca dapat mengetahui perdebatan antara Izza dan ayahya. “JANGAN PERNAH BERPIKIR SEPERTI ITU! Tidakkah lebih baik bagimu hidup seperti air mengalir saja dan berhasil dalam menulis dan sekolah? Menyatakan diri tak mau sekolah sama saja ingin menanggung malu! ORANG AKAN MENGANGGAPMU SOMBONG, NAKAL, DAN TAK TAHU DIRI!” kata ayahnya.
Apa pula jawaban sang anak? “Aku tidak bisa berhasil dalam keduanya. Aku tidak peduli komentar orang lain kalau misalnya aku diijinkan… Sekarang yang paling penting bagiku adalah menulis, tak ada hal lain! Dan aku hanya ingin bebas! Sekolah seperti penjara yang mengurungku dalam ketidakpastian.... aku bisa menciptakan sekolahku sendiri. Dengan ajaran berbagai buku, aku bisa belajar sendiri!”
Menarik sekali apa yang dikatakan Izza, “aku bisa belajar sendiri!” Bukankah inilah esensi dari sekolah (belajar) itu? Yakni membuat orang sekolah (belajar) mau belajar. Tapi apa yang kita lihat saat ini? Banyak orang yang sekolah tetapi tidak mau belajar.
Salah siapa? Mungkin ini semua salah kita. Karena kita seringkali hanya menilai kecerdasan berdasarkan tinggi atau tidaknya pendidikan formal seseorang. Padahal belajar itu dapat dilakukan dimana saja (bukan hanya di sekolah) dan sepanjang hayat (bukan dibatasi oleh waktu sembilan tahun). Dan yang terpenting belajar (memperoleh pendidikan) bukanlah kewajiban melainkan hak anak!
Lagipula menurut Einstein, pendidikan adalah sesuatu yang tidak terlupakan di kepala sampai kapan pun, serta memberi kesan mendalam kepada yang menimbanya. Namun, sekolah kita mengharuskan penguasaan segala disiplin ilmu pada waktu yang bersamaan dan tidak mengakomodasi perbedaan minat (hlm 95).
Dalam buku ini, juga diceritakan bagaimana Izza berusaha mewujudkan impiannya menyempurnakan novel pertamanya. Sepuluh jam sehari dihabiskan untuk riset, mengetik dan merevisi naskah. Inilah salah satu alasan Izza keluar dari sekolah. Ia ingin fokus menggapai menulis.
Ingat Anggun dan Agnes? Mereka adalah orang-orang yang fokus di bidangnya. Anggun rela meninggalkan tanah airnya dan tidak menamatkan SMA. Namun, ia berhasil menjadi penyanyi internasional. Siapa pula yang tak tahu Agnes. Artis multitalenta dan berhasil dalam akademis (pintar), rela “berhenti sementara” dari kuliahnya demi usahanya untuk go international. Demikian juga Izza, meski belum menjadi penulis besar tetapi berani melawan arus untuk menggapai impiannya. Mereka semua sesungguhnya adalah orang-orang yang berhasil. Karena, hakikat keberhasilan itu adalah tatkala seseorang memiliki pilihan hidup. Bukankah begitu?
[NURZANNAH, A. M, / www.tkmasjidsyuhada.com]
Tebal : 252 hlm
Penerbit : Read! Publishing House (Kelompok Mizan)
Cetakan : I, April 2007
Di negara ini, anak sekolah yang drop out banyak. Ada berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Yang paling utama, faktor ekonomi. Alias ketidakmampuan membayar ongkos pendidikan yang semakin mahal dari hari ke hari. Namun, di kota kecil di Jawa Tengah, Salatiga, ada seorang anak sekolah menengah pertama (SMP) memutuskan untuk berhenti sekolah tiga bulan menjelang ujian nasional (UN). Bukan karena takut tak lulus melainkan ingin konsentrasi menulis.
Muhammad Izza Ahsin Sidqi, menuliskan kisah yang dialaminya dalam buku ini. Buku ini menuturkan kegalauan seorang Izza yang merasa terkungkung di dalam penjara yang bernama sekolah. Meski ia bersekolah di sekolah paling favorit dan terbaik di kotanya, tetapi ia tak menemukan kondisi ideal di sana. Guru-guru yang masih mengajar secara konvensional dan senang “meneror” secara fisik maupun mental dengan dalih disiplin dan supaya anak didik menguasai bahan ajar membuat Izza yang dkenal sebagai murid pendiam dan bukan pembuat onar “memberontak”. Puncaknya, ia meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk berhenti sekolah. Apa reaksi sang ayah dan ibu? Marah besar. Apalagi mereka adalah guru-guru berprestasi. Apa kata dunia jika anak guru tak sekolah?
Izza bukanlah anak yang bodoh. Kebiasaan membaca buku-buku “berat” sedari sekolah dasar (SD) membuatnya punya wawasan yang melebihi seorang mahasiswa sekalipun. Gayanya menulis menunjukkan betapa ia telah banyak belajar dari buku-buku yang dibacanya itu. Dalam bukunya ini Izza mengisahkan bagaimana ia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya selama delapan bulan agar mengijinkannya berhenti sekolah. Adu argumen, bahkan pecahan piring karena bantingan sang ayah mewarnai diskusi-diskusi mereka.
Pada halaman 30, pembaca dapat mengetahui perdebatan antara Izza dan ayahya. “JANGAN PERNAH BERPIKIR SEPERTI ITU! Tidakkah lebih baik bagimu hidup seperti air mengalir saja dan berhasil dalam menulis dan sekolah? Menyatakan diri tak mau sekolah sama saja ingin menanggung malu! ORANG AKAN MENGANGGAPMU SOMBONG, NAKAL, DAN TAK TAHU DIRI!” kata ayahnya.
Apa pula jawaban sang anak? “Aku tidak bisa berhasil dalam keduanya. Aku tidak peduli komentar orang lain kalau misalnya aku diijinkan… Sekarang yang paling penting bagiku adalah menulis, tak ada hal lain! Dan aku hanya ingin bebas! Sekolah seperti penjara yang mengurungku dalam ketidakpastian.... aku bisa menciptakan sekolahku sendiri. Dengan ajaran berbagai buku, aku bisa belajar sendiri!”
Menarik sekali apa yang dikatakan Izza, “aku bisa belajar sendiri!” Bukankah inilah esensi dari sekolah (belajar) itu? Yakni membuat orang sekolah (belajar) mau belajar. Tapi apa yang kita lihat saat ini? Banyak orang yang sekolah tetapi tidak mau belajar.
Salah siapa? Mungkin ini semua salah kita. Karena kita seringkali hanya menilai kecerdasan berdasarkan tinggi atau tidaknya pendidikan formal seseorang. Padahal belajar itu dapat dilakukan dimana saja (bukan hanya di sekolah) dan sepanjang hayat (bukan dibatasi oleh waktu sembilan tahun). Dan yang terpenting belajar (memperoleh pendidikan) bukanlah kewajiban melainkan hak anak!
Lagipula menurut Einstein, pendidikan adalah sesuatu yang tidak terlupakan di kepala sampai kapan pun, serta memberi kesan mendalam kepada yang menimbanya. Namun, sekolah kita mengharuskan penguasaan segala disiplin ilmu pada waktu yang bersamaan dan tidak mengakomodasi perbedaan minat (hlm 95).
Dalam buku ini, juga diceritakan bagaimana Izza berusaha mewujudkan impiannya menyempurnakan novel pertamanya. Sepuluh jam sehari dihabiskan untuk riset, mengetik dan merevisi naskah. Inilah salah satu alasan Izza keluar dari sekolah. Ia ingin fokus menggapai menulis.
Ingat Anggun dan Agnes? Mereka adalah orang-orang yang fokus di bidangnya. Anggun rela meninggalkan tanah airnya dan tidak menamatkan SMA. Namun, ia berhasil menjadi penyanyi internasional. Siapa pula yang tak tahu Agnes. Artis multitalenta dan berhasil dalam akademis (pintar), rela “berhenti sementara” dari kuliahnya demi usahanya untuk go international. Demikian juga Izza, meski belum menjadi penulis besar tetapi berani melawan arus untuk menggapai impiannya. Mereka semua sesungguhnya adalah orang-orang yang berhasil. Karena, hakikat keberhasilan itu adalah tatkala seseorang memiliki pilihan hidup. Bukankah begitu?
[NURZANNAH, A. M, / www.tkmasjidsyuhada.com]
Jumat, 31 Agustus 2007
Mendidik Anak dengan Al-Quran
Oleh: Abdullah
Sejak wahyu pertama diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, pendidikan terhadap umat Islam mulai berlaku. Hingga akhir zaman, sesungguhnya, umat Islam tidak pernah lepas kehidupannya dari pendidikan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada ayat pertama yang di turunkan-Nya:
“Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)
Pada ayat lain, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah, dan beri peringatan. Dan besarkanlah nama Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkanlah dosa. Janganlah engkau memberi supaya mendapat yang lebih banyak. Dan bersabarlah (menurut perintah Tuhanmu).” (Al-Mudatsir: 1-6)
Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, yang dikutip oleh Didin Hafidhuddin dalam Dakwah Aktual; 1998, menyimpulkan isi kandungan ayat-ayat di atas, menurutnya paling tidak mengandung empat macam pendidikan.
Pertama, pendidikan Akidah. Yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukan dengan berhala, Sebab itu, hendaklah dihilangkan berhala itu sejauh-jauhnya dari kehidupan muslimin. Kedua, pendidikan aqliyah dan ilmiah. Yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah (‘alaq) dan kejadian alam semesta. Karena alam akan mengajarkan pendidikan kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya. Untuk mempelajari hal itu haruslah banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat.
Ketiga, pendidikan akhlak dan budi pekerti. Terutama bagi si pendidik, hendaklah mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang di ajarnya, melainkan ikhlas karena Allah semata dengan mengharapkan keridhaan-Nya. Hal ini diharapkan menurun kepada anak didiknya, sehingga akan melahirkan manusia-manusia cerdas yang berakhlak dan budipekerti baik, sesuai nilai-nilai Islam. Dan keempat, pendidikan jasmani. Yaitu mementingkan kebersihan; bersih pakaian, bersih badan—termasuk bersih hati, dan bersih tempat kediaman, sehingga menjadi contoh dan teladan bagi anak didik.
Dengan demikian pendidikan memegang peranan penting dalam pembinaan umat Islam agar mereka dapat meraih status khaira ummah.
Menghindari Anak Dari Kegilaan Masa Kecil
Al-Ghazali menyatakan, “Anak adalah amanah di tangan ibu-bapaknya. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Apabila ia dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, niscaya ia akan tumbuh besar dengan sifat-sifat baik dan akan bahagia di dunia akhirat. Sebaliknya, bila ia dibiasakan dengan tradisi-tradisi buruk, tidak dipedulikan seperti halnya hewan, niscaya ia akan hancur dan binasa.”
Anak tak ubahnya selembar kertas putih. Apa yang pertama kali ditorehkan di sana, maka itulah yang akan membentuk karakter dirinya. Bila yang pertama ditanamkan adalah warna agama dan keluhuran budi pekerti, maka akan terbentuk antibody (zat kebal) awal pada anak akan pengaruh negative, seperti benci kesombongan, rajin ibadah, tidak membangkang pada orang tua, dan sebagainya. Sebaliknya, bila pertama tidak ditanamkan warna agama dan keluhuran budi pekerti, maka yang akan muncul adalah antibodi terhadap pengaruh positif, seperti malas beribadah, malas belajar, gila pujian, angkuh, dan sebagainya. Jika hal demikian dibiarkan, maka (setelah dewasa) sukarlah untuk meluruskannya. Pepatah bijak menyatakan, “Barangsiapa membiasakan sesuatu semenjak kecil maka dia akan terbiasa dengannya hingga dewasa.”
Menurut Ahmad Syarifuddin dalam bukunya “Mendidik anak; Membaca, Menulis dan Mencintai Al-Qur’an”, menyatakan, para ulama mengatakan ada penyakit berbahaya yang biasa hinggap pada kalangan anak kecil yang disebut dengan penyakit “jununus shaba” (kegilaan masa kecil), yaitu satu kecenderungan buruk, noda hitam kedurhakaan, dan bibit kesesatan pada anak yang berasal dari semaian hawa nafsu maupun setan. Penyakit ini kerap berjangkit pada anak yang tidak ditanamkan pendidikan yang baik sejak dini kepadanya.
Atas dasar ini mendidik anak sejak dini merupakan hal yang sangat perlu dan mendasar dilakukan. Seluruh elemen masyarakat khususnya orang tua hendaknya tidak mengabaikan hal ini. Apalagi “belajar di waktu kecil laksana melukis di atas batu dan belajar di waktu besar laksana melukis di atas air”. Mengenai pentingnya faktor pendidikan ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (QS: At-Tahrim: 6)
Mengenai makna yang dikandung ayat ini, sahabat Ali bin Abu Thalib ra., berkata, “Ajari dan didik anak-anakmu pendidikan yang baik.” Sedangkan Hasan Al-Bashri berkata, “Suruhlah mereka taat kepada Allah dan didiklah mereka ajaran kebaikan.”
Kandungan ayat tersebut dikuatkan dengan hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, “Setiap kamu adalah penggembala (pemimpin) dan setiap kamu pasti akan diminta pertanggungjawaban dari gembalaannya…seorang laki-laki (ayah) adalah penggembala dari keluarganya dan akan diminta pertanggungan jawab dari gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga Fitrah Anak
Pendidikan pada anak juga berfungsi agar kehanifan anak (kelurusan dalam meniti kebenaran) tetap terjaga. Keberagamaannya bagus. Ia senantiasa akrab dan dekat sekaligus teguh dengan kebenaran. Cahaya hikmah senantiasa menyertainya. Sedangkan tipu daya setan yang hendak menghilangkan kehanifan itu bisa dihindari. Dalam hadits qudsi dinyatakan.
“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku secara hanif (lurus, cenderung kepada fitrah, beragama Islam) seluruhnya. Sesungguhnya setan-setan datang lalu mengalihkan hamba-hamba-Ku itu dari agama mereka semula (Islam).” (HR. Muslim shahih Muslim II/650 no 2865)
Pihak yang bertanggungjawab penuh dalam memperhatikan aspek pendidikan anak ini adalah orang tua. Orang tualah yang mengukir anaknya sendiri dengan pendidikan itu. Dia menjadikan anaknya saleh, tidak saleh, atau kafir, bergantung kemauannya. Rasulullah bersabda:
“Setiap bayi dilahirkan atas fitrah (tauhid, iman). Kedua orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari I/240)
Karena dominasi peran ini, hendaknya orang tua serius memperhatikan akan-anaknya dalam rangka melestarikan fitrahnya, menjaga kehanifah agamanya, dan menanamkan padanya warna budi pekerti yang luhur, sehingga kelak anak menjadi generasi penerus yang tangguh, kokoh, dan kuat mentalitas keimanannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nissa: 9)
Ayat ini bermakna seruan terhadap orang tua agar tidak meninggalkan generasi penerus (anak-anak) yang lemah, tidak saja dari segi materi (ekonomi), namun yang lebih rawan adalah kelemahan dari segi mental spiritual. Menurut pandangan akidah Islam, mental yang lemah dari suatu generasi sangat dikhawatirkan, dibandingkan sekedar lemah secara materi. Dan jalan untuk mengokohkan mental yang elegan adalah melalui perhatian terhadap aspek pendidikan anak-anak tersebut.
Takhtim
Memasuki era globalisasi dengan segala perangkatnya (kemajuan teknologi, komunikasi, dan informasi), setiap orang tua memerlukan perhatian yang ekstra terhadap pendidikan anak-anaknya. Selain membawa harapan positif, era globalisasi juga melahirkan tantangan baru terhadap pembentukan kepribadian anak. Para pakar menyatakan tidak ada lagi ideologi-ideologi besar dunia saat ini yang mampu menghadang arus negafit dari globalisasi yang melanda dunia saat ini, kecuali agama (Islam). John Naisbit dan Patricia Aburdene, dalam buku Megatrend 2000, menyatakan bahwa era baru ini merupakan era kebangkitan agama, dalam artian agama merupakan alternatif bagi umat manusia untuk dapat mempertahankan identitas kemanusiaan. (Didin Hafidhuddin, 1998).
Sebab itu, membentuk generasi yang berkualitas merupakan tanggungjawab moral bagi setiap orang tua. “dzurriyatan dhiafa khafu ‘alaihim” generasi lemah yang dikhawatirkan kesejahteraan mereka, tidak bisa diartikan secara sempit hanya dilihat dari segi materi tanpa memperhatikan segi imateri (moral dan akidah). Moral dan akidah ini justru merupakan hal yang sangat esensi, karena meninggalkan generasi yang sejahtera harus dilihat dari segi manusia seutuhnya. Dan TAKWA merupakan kunci dasar pembinaan terhadap pribadi dan keluarga dalam upaya menciptakan generasi yang berkualitas tersebut.
www.jamaahmuslimin.com
Sejak wahyu pertama diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, pendidikan terhadap umat Islam mulai berlaku. Hingga akhir zaman, sesungguhnya, umat Islam tidak pernah lepas kehidupannya dari pendidikan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada ayat pertama yang di turunkan-Nya:
“Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)
Pada ayat lain, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah, dan beri peringatan. Dan besarkanlah nama Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkanlah dosa. Janganlah engkau memberi supaya mendapat yang lebih banyak. Dan bersabarlah (menurut perintah Tuhanmu).” (Al-Mudatsir: 1-6)
Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, yang dikutip oleh Didin Hafidhuddin dalam Dakwah Aktual; 1998, menyimpulkan isi kandungan ayat-ayat di atas, menurutnya paling tidak mengandung empat macam pendidikan.
Pertama, pendidikan Akidah. Yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukan dengan berhala, Sebab itu, hendaklah dihilangkan berhala itu sejauh-jauhnya dari kehidupan muslimin. Kedua, pendidikan aqliyah dan ilmiah. Yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah (‘alaq) dan kejadian alam semesta. Karena alam akan mengajarkan pendidikan kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya. Untuk mempelajari hal itu haruslah banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat.
Ketiga, pendidikan akhlak dan budi pekerti. Terutama bagi si pendidik, hendaklah mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang di ajarnya, melainkan ikhlas karena Allah semata dengan mengharapkan keridhaan-Nya. Hal ini diharapkan menurun kepada anak didiknya, sehingga akan melahirkan manusia-manusia cerdas yang berakhlak dan budipekerti baik, sesuai nilai-nilai Islam. Dan keempat, pendidikan jasmani. Yaitu mementingkan kebersihan; bersih pakaian, bersih badan—termasuk bersih hati, dan bersih tempat kediaman, sehingga menjadi contoh dan teladan bagi anak didik.
Dengan demikian pendidikan memegang peranan penting dalam pembinaan umat Islam agar mereka dapat meraih status khaira ummah.
Menghindari Anak Dari Kegilaan Masa Kecil
Al-Ghazali menyatakan, “Anak adalah amanah di tangan ibu-bapaknya. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Apabila ia dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, niscaya ia akan tumbuh besar dengan sifat-sifat baik dan akan bahagia di dunia akhirat. Sebaliknya, bila ia dibiasakan dengan tradisi-tradisi buruk, tidak dipedulikan seperti halnya hewan, niscaya ia akan hancur dan binasa.”
Anak tak ubahnya selembar kertas putih. Apa yang pertama kali ditorehkan di sana, maka itulah yang akan membentuk karakter dirinya. Bila yang pertama ditanamkan adalah warna agama dan keluhuran budi pekerti, maka akan terbentuk antibody (zat kebal) awal pada anak akan pengaruh negative, seperti benci kesombongan, rajin ibadah, tidak membangkang pada orang tua, dan sebagainya. Sebaliknya, bila pertama tidak ditanamkan warna agama dan keluhuran budi pekerti, maka yang akan muncul adalah antibodi terhadap pengaruh positif, seperti malas beribadah, malas belajar, gila pujian, angkuh, dan sebagainya. Jika hal demikian dibiarkan, maka (setelah dewasa) sukarlah untuk meluruskannya. Pepatah bijak menyatakan, “Barangsiapa membiasakan sesuatu semenjak kecil maka dia akan terbiasa dengannya hingga dewasa.”
Menurut Ahmad Syarifuddin dalam bukunya “Mendidik anak; Membaca, Menulis dan Mencintai Al-Qur’an”, menyatakan, para ulama mengatakan ada penyakit berbahaya yang biasa hinggap pada kalangan anak kecil yang disebut dengan penyakit “jununus shaba” (kegilaan masa kecil), yaitu satu kecenderungan buruk, noda hitam kedurhakaan, dan bibit kesesatan pada anak yang berasal dari semaian hawa nafsu maupun setan. Penyakit ini kerap berjangkit pada anak yang tidak ditanamkan pendidikan yang baik sejak dini kepadanya.
Atas dasar ini mendidik anak sejak dini merupakan hal yang sangat perlu dan mendasar dilakukan. Seluruh elemen masyarakat khususnya orang tua hendaknya tidak mengabaikan hal ini. Apalagi “belajar di waktu kecil laksana melukis di atas batu dan belajar di waktu besar laksana melukis di atas air”. Mengenai pentingnya faktor pendidikan ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (QS: At-Tahrim: 6)
Mengenai makna yang dikandung ayat ini, sahabat Ali bin Abu Thalib ra., berkata, “Ajari dan didik anak-anakmu pendidikan yang baik.” Sedangkan Hasan Al-Bashri berkata, “Suruhlah mereka taat kepada Allah dan didiklah mereka ajaran kebaikan.”
Kandungan ayat tersebut dikuatkan dengan hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, “Setiap kamu adalah penggembala (pemimpin) dan setiap kamu pasti akan diminta pertanggungjawaban dari gembalaannya…seorang laki-laki (ayah) adalah penggembala dari keluarganya dan akan diminta pertanggungan jawab dari gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga Fitrah Anak
Pendidikan pada anak juga berfungsi agar kehanifan anak (kelurusan dalam meniti kebenaran) tetap terjaga. Keberagamaannya bagus. Ia senantiasa akrab dan dekat sekaligus teguh dengan kebenaran. Cahaya hikmah senantiasa menyertainya. Sedangkan tipu daya setan yang hendak menghilangkan kehanifan itu bisa dihindari. Dalam hadits qudsi dinyatakan.
“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku secara hanif (lurus, cenderung kepada fitrah, beragama Islam) seluruhnya. Sesungguhnya setan-setan datang lalu mengalihkan hamba-hamba-Ku itu dari agama mereka semula (Islam).” (HR. Muslim shahih Muslim II/650 no 2865)
Pihak yang bertanggungjawab penuh dalam memperhatikan aspek pendidikan anak ini adalah orang tua. Orang tualah yang mengukir anaknya sendiri dengan pendidikan itu. Dia menjadikan anaknya saleh, tidak saleh, atau kafir, bergantung kemauannya. Rasulullah bersabda:
“Setiap bayi dilahirkan atas fitrah (tauhid, iman). Kedua orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari I/240)
Karena dominasi peran ini, hendaknya orang tua serius memperhatikan akan-anaknya dalam rangka melestarikan fitrahnya, menjaga kehanifah agamanya, dan menanamkan padanya warna budi pekerti yang luhur, sehingga kelak anak menjadi generasi penerus yang tangguh, kokoh, dan kuat mentalitas keimanannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nissa: 9)
Ayat ini bermakna seruan terhadap orang tua agar tidak meninggalkan generasi penerus (anak-anak) yang lemah, tidak saja dari segi materi (ekonomi), namun yang lebih rawan adalah kelemahan dari segi mental spiritual. Menurut pandangan akidah Islam, mental yang lemah dari suatu generasi sangat dikhawatirkan, dibandingkan sekedar lemah secara materi. Dan jalan untuk mengokohkan mental yang elegan adalah melalui perhatian terhadap aspek pendidikan anak-anak tersebut.
Takhtim
Memasuki era globalisasi dengan segala perangkatnya (kemajuan teknologi, komunikasi, dan informasi), setiap orang tua memerlukan perhatian yang ekstra terhadap pendidikan anak-anaknya. Selain membawa harapan positif, era globalisasi juga melahirkan tantangan baru terhadap pembentukan kepribadian anak. Para pakar menyatakan tidak ada lagi ideologi-ideologi besar dunia saat ini yang mampu menghadang arus negafit dari globalisasi yang melanda dunia saat ini, kecuali agama (Islam). John Naisbit dan Patricia Aburdene, dalam buku Megatrend 2000, menyatakan bahwa era baru ini merupakan era kebangkitan agama, dalam artian agama merupakan alternatif bagi umat manusia untuk dapat mempertahankan identitas kemanusiaan. (Didin Hafidhuddin, 1998).
Sebab itu, membentuk generasi yang berkualitas merupakan tanggungjawab moral bagi setiap orang tua. “dzurriyatan dhiafa khafu ‘alaihim” generasi lemah yang dikhawatirkan kesejahteraan mereka, tidak bisa diartikan secara sempit hanya dilihat dari segi materi tanpa memperhatikan segi imateri (moral dan akidah). Moral dan akidah ini justru merupakan hal yang sangat esensi, karena meninggalkan generasi yang sejahtera harus dilihat dari segi manusia seutuhnya. Dan TAKWA merupakan kunci dasar pembinaan terhadap pribadi dan keluarga dalam upaya menciptakan generasi yang berkualitas tersebut.
www.jamaahmuslimin.com
Langganan:
Postingan (Atom)