Tampilkan postingan dengan label Ideologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ideologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2008

Anggun C. Sasmi

al-islahonline.com : Anggun Cipta Sasmi (Anggun) , seorang penyanyi Indonesia yang kini tinggal di Perancis mengatakan dalam sebuah wawancara ketika ditanya tentang agamanya :

?Agama itu adalah sifatnya personal atau pribadi, artinya agama adalah hubungan antara anda (manusia) secara vertikal kepada Tuhannya.?

?Kalau anda menanyakan apa agama saya, saya tidak perlu menjawabnya, yang penting saya percaya sama Tuhan. Apakah saya menyebutnya Allah seperti orang Islam menyebut, atau Yesus seperti orang Kristen, atau Sidharta Budha Gautama seperti orang Budha menyebutnya. Itu adalah hubungan pribadi saya dengan Tuhan.?

Wawancara tersebut ditayangkan oleh sebuah TV swasta. Sungguh saya pribadi tersentak kaget, dia yang hanya seorang artis begitu fasih menyatakan tentang Pluralisme, bukan hanya fasih, saya menilai Anggun sepertinya sangat memahami apa yang disebut sebagai Pluralisme, bahkan saya yakin dia lebih memahami dari sebagian besar sarjana-sarjana agama di Indonesia ini.

Keanehan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi saya, karena dia yang hanya seorang artis dan tidak memiliki background pendidikan agama justru mengetahui secara persis makna dari Pluralisme.

Selidik punya selidik, ternyata dia hidup menetap di Perancis, yaitu sebuah negara yang sangat sekuler (negara sekuler pertama kali) dan di Perancis Pluralisme berkembang sangat subur, Perancis telah berhasil mendidik warganya memahami Pluralisme yang salah satu hasilnya adalah Anggun C. Sasmi walaupun dia hanya seorang artis.

Salah satu efek dari negara sekuler adalah suburnya hidup bebas antara pria dan wanita walaupun diluar nikah (samen leven). Konon Anggun telah hidup bersama managernya yang orang Perancis dan sangat menikmatinya walaupun hidup diluar nikah, dan kini Anggun justru akan menikah dengan orang Canada, inilah salah satu produk negara sekuler yang sangat dinikmati oleh warganya, yang penting tidak mengganggu hak orang lain.

Sebelum kita mengkaji tentang negara Perancis yang Sekularis-Pluralis-Liberalis, marilah kita kaji dulu definisi Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme sesederhana mungkin, yang penting kita memahami terlebih dahulu makna tersebut walaupun tidak mendalam.


Sekularisme

Sekularisme secara sederhana dapat didefinisikan sebagai doktrin yang menolak campur tangan nilai-nilai keagamaan dalam urusan manusia, singkatnya urusan manusia harus bebas dari agama atau dengan kata lain agama tidak boleh mengintervensi urusan manusia. Segala tata-cara kehidupan antar manusia adalah menjadi hak manusia untuk mengaturnya, Tuhan tidak boleh mengintervensinya.

Sikap orang-orang Sekularis ini terlihat angkuh, sombong bahkan sangat menggelikan, bagaimana tidak, mereka seakan-akan lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi urusan manusia melebihi Allah SWT yang telah menciptakannya. Memang patut diakui, orang-orang Sekularis adalah orang-orang genius dan brillian bahkan dengan gelar pendidikan profesor-doktor yang menyilaukan mata, tetapi sangat tidak pantas bila mereka lantas merasa lebih tahu urusan manusia dari pada Allah SWT yang menciptakannya.

Negara Sekuler berarti negara yang mengatur kehidupan warganya tanpa mengikutkan campur tangan nilai-nilai agama, dengan kata lain negara dengan nol agama. Mendiang Cak Nur pernah mengatakan Islam Yes partai Islam no yang artinya silahkan saja beragama Islam, tetapi tidak usah membuat partai yang memperjuangkan Islam. Lebih jauh makna tentang ungkapan itu adalah tidak usah membawa-bawa nilai-nilai agama ke dalam parlemen, silahkan saja amalkan agama secara pribadi, biar negara yang mengatur urusan warganya.

Allah SWT telah memperingatkan terhadap tipu daya orang-orang Sekularis yang artinya :

?Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan".

?Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar? QS. 2:11-12


Pluralisme

Pluralisme adalah sebuah paham yang mendoktrinkan bahwa kebenaran itu bersifat banyak atau tidak tunggal. Ada Pluralisme dalam agama, hukum, moral, filsafat dan lain sebagainya, dalam kajian ini akan kita ambil defenisi Pluralisme dalam agama yang sering disebut sebagai Pluralisme agama atau sering kali disingkat sebagai Pluralisme saja.

?Hakekat dan keselamatan bukanlah monopoli satu agama tertentu, semua agama menyimpan hakikat yang mutlak dan sangat agung, menjalankan masing-masing progam agama bisa menjadi sumber keselamatan?

Jadi orang yang berpaham Plural dia sejatinya meyakini bahwa dalam agama Islam ada keselamatan untuk menuju sorga, dalam waktu yang bersamaan dia juga meyakini bahwa dalam agama Kristen juga ada jalan keselamatan menuju ke sorga, begitu juga dalam agama Budha, Hindu, Konghucu dan lain sebagainya.

Dan Anggun sepertinya sangat paham tentang Pluralisme tersebut dengan ungkapannya :

?Kalau anda menanyakan apa agama saya, saya tidak perlu menjawabnya, yang penting saya percaya sama Tuhan. Apakah saya menyebutnya Alloh seperti orang Islam menyebut, atau Yesus seperti orang Kristen menyebut, atau Sidharta Budha Gautama seperti orang Budha menyebutnya. Itu adalah hubungan pribadi saya dengan Tuhan.?

Dari ungkapan itu, tersirat makna bahwa semua agama pada hakekatnya menyembah kepada Tuhan yang sama hanya beda dalam penyebutan, semuanya benar, tidak boleh mengklaim salah satu agama saja yang benar. Padahal Allah SWT berfirman yang artinya :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata "Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putera Maryam"?... QS. 5:17

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. QS. 3:19


Liberalisme

Sebenarnya ada banyak macam Liberalisme, ada ekonomi Liberal, politik Liberal, demokrasi Liberal, Kristen Liberal, Islam Liberal dan lain sebagainya, yang akan kita coba tarik defenisinya adalah Islam Liberal.

Islam artinya tunduk patuh atau pasrah dan Liberal artinya bebas, jadi Islam liberal adalah tunduk patuh tapi bebas. Sesungguhnya istilah Islam liberal adalah istilah yang kontradiktif, masa Islam liberal, masa tunduk patuh bisa bebas. Jadi kalau ada orang mengatakan ?saya adalah penganut Islam Liberal? adalah pengakuan yang keliru lagi keblinger walaupun dia seorang profesor-doktor, mungkin saja pengakuannya supaya terkesan keren, atau mungkin untuk menipu umat Islam dengan istilah-istilah yang keren, Allah SWT berfirman yang artinya :

?? sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).? QS. 6:112

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. QS. 2:9

Namun yang dimaksud Islam Liberal dalam praktek adalah kebebasan dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam agar Islam compatible dengan modernitas, compatible dengan perkembangan zaman. Untuk mencapai tujuan tersebut harus dilakukan penafsiran ulang atas al-Qur?an, tidak boleh mengikuti metode tafsir ulama-ulama terdahulu, menafsirkan al-Qur?an harus dengan cara kontemporer atau modern, bahkan harus membuang jauh-jauh sunnah Rasulullah saw dan menghujat ulama-ulama besar seperti Imam Syafi?i.

Banyak sekali yang akan dirombak ulang oleh Islam Liberal antara lain menghalalkan khamer, membolehkan zina asal tidak melanggar hak orang lain, tidak mengkafirkan umat di luar Islam agar bisa kawin secara lintas agama atau agar agama lain dapat dihukumi sama-sama akan masuk sorga dan masih banyak lagi hukum-hukum yang akan dirombak semuanya agar Islam dapat mengikuti dan sesuai dengan perkembangan zaman.


Sekularisme-Pluralisme-Liberalisme

Pluralisme tidak akan berkembang tanpa adanya Liberalisme dalam agama, karena banyak sekali paham-paham Pluralisme yang me-nyimpang dari nash agama, untuk itu agama perlu ditafsir ulang secara bebas tidak terikat oleh pemahaman ulama-ulama terdahulu.

Liberalisme tidak akan tumbuh bebas dan subur bila sebuah negara tidak Sekular, karena sifat destruktif atau penghancur dari Liberalisme terhadap ajaran agama akan terlindungi oleh pemerintahan yang Sekular.

Sementara itu, negara Sekular sangat memerlukan warga negara yang Pluralis, karena negara akan benar-benar steril dari campur ta-ngan ajaran agama, pasalnya warga negara yang Pluralis tidak akan lagi berdakwah untuk mengembangkan agamnya, karena dipikirnya untuk apa berdakwah bila seseorang beragama apapun sudah terjamin masuk sorga.

Begitu juga negara Sekular akan sangat diuntungkan oleh warganya yang Liberalis dalam bergama, karena banyak sekali nash-nash agama yang menyatakan Sekularisme adalah penghancur agama. Dengan adanya Liberalisme agama, nash-nash tersebut akan berubah makna dengan sendirinya sehingga seakan-akan Sekularisme adalah ajaran agama.

Itulah hubungan keterkaitan antara ketiga isme tersebut, bahkan penganut Sekularisme akan dengan mudah masuk menjadi penganut Pluralisme atau Liberalisme, bahkan satu orang bisa mendapatkan gelar sebagai pejuang Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme.

Adian Husaini menulis sebuah topik dalam catatan akhir pekannya yang diberi judul ?Bahaya Sepilis? yaitu yang dimaksud adalah ba-haya Sekularisme-Pluralisme dan Liberalisme, penyingkatan tiga isme menjadi satu kata bisa jadi oleh penulisnya dimaksudkan agar umat Islam mewaspadai bahwa tiga isme tersebut adalah sebagai satu kesatuan yang sulit sekali terpisahkan dan sebagai mesin penghancur ajaran agama yang sangat efektif. Atau mungkin Adian Husaini ingin berpe-san bahwa ketiga isme tersebut adalah penyakit menular dan berbahaya seperti sipilis.


Indonesia Menuju Perancis

Ketika Anjasmara (pemeran Cecep) diwawancarai oleh sebuah acara infotainment tentang foto bugilnya dia mengatakan : ?saat ini mungkin bangsa Indonesia masih belum siap menerima karya seni menampilkan keindahan tubuh?, jawaban semacam ini adalah jawaban orang yang sudah teracuni atau tertular oleh penyakit Liberalisme dan Sekularisme, artinya orang-orang semacam ini mengharapkan agar norma-norma agama jangan ikut campur tangan dalam urusan seni dan kebebasan berekspresi, karena hal itu akan menghalangi perkembangan seni di Indonesia.

Pernyataan Anjasmara bahwa bangsa Indonesia belum siap, seakan-akan Anjasmara telah mengetahui bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang dalam proses penggiringan ke arah bangsa yang Sekularis-Pluralis-Libe-ralis seperti negara Perancis, hanya mungkin pada saat ini kadarnya masih kecil, nanti pada suatu ketika bila penggiringan ini telah berhasil maka foto-foto seperti foto telan-jang Anjasmara yang diklaim sebagai karya seni akan marak diproduksi dan dipamerkan, bahkan yang lebih seronokpun akan banyak bertebaran dengan alasan menghargai karya seni dan kebebasan berekspresi.

Pada saat ini, orang-orang sekularis selalu mempropagandakan untuk tidak membawa urusan agama dalam parlemen, bahkan Cak Nur dengan slogannya Islam Yes Partai Islam No adalah salah satu cara untuk menjegal perjuangan Islam ke dalam parlemen, sehingga bila tidak ada pejuang Islam dalam parlemen akan mudah negara ini menjadi sekular seperti Perancis, dengan dalam beberapa langkah lagi Pluralisme dan Liberalisme akan terpayungi dalam negara Indonesia ini.

Bila sudah demikian yang terjadi, sangat mungkin Indonesia akan melakukan seperti apa yang dilakukan Perancis, melarang berjilbab di tempat-tempat umum dan resmi, tetapi justru membebaskan pakaian minim yang sangat ekspresif dan erotis, karena pakaian semacam ini bagi negara Sekular tidak membahayakan malah bisa menjadi komoditi wisata yang berpotensi, tetapi jilbab berakibat sebaliknya bagi negara sekular, mengancam keamanan negara karena akan melahirkan sikap fanatik terhadap agama tertentu (Islam).

Kasus Anjasmara masih bisa diprotes, karena negara ini belum 100% Sekular dan Liberal, karena masih ada ruang bagi pejuang-pejuang agama untuk memprotesnya dan masih terakomodasi oleh negara, bila pejuang Sepilis telah berhasil menjadikan negara ini Sekular-Liberal maka tidak ada ruang lagi untuk memprotesnya.

Tidak heran dengan apa yang bisa dilakukan oleh Anggun di Perancis, kumpul kebo selama bertahun-tahun dengan managernya adalah hal yang biasa-biasa saja, membuat video clip sangat sensual juga merupakan yang biasa, memberikan pernyataan kepada pers bahwa semua agama benar malah menjadikan ia seperti pahlawan Pluralisme, hal ini karena Perancis adalah negara Sekularis-Plularis-Liberalis yang hampir 100%.

Seperti itulah yang diinginkan para pejuang Sekular-Plural-Liberal di Indonesia, tidak ada aturan agama yang bisa masuk ke dalam karya seni, kedalam urusan pemerintahan, kedalam kebebasan berekspresi bahkan kedalam kehidupan yang paling pribadipun yaitu semacam kehidupan kumpul kebo atau perzinaan.

Bila kita umat Islam santai-santai saja dalam menghambat gerakan Sekular-Plural-Liberal maka tinggal tunggu saja tanggal mainnya untuk menjadi seperti negara Perancis atau Australia, di mana tidak ada lagi suasana ke-Islam-an dan orang-orang yang dinilai militan dalam agama harus keluar dari negeri Australia.(ah)

Sumber: [http://www.al-islahonline.com/]

Rabu, 28 November 2007

KH Kholil Ridwan "Nasr Hamid Masuk dalam Jaringan ‘Anti Islam’ Internasional"

KH. Kholis Ridwan, Ketua MUI Pusat mengatakan, Nasr Hamid Abu Zayd masuk dalam jaringan “anti-Islam” internasional. Apa maksudnya?



Hidayatullah.com--Solidaritas atas dicekalnya Prof Nasr Hamid oleh tokoh-tokoh Islam liberal dan orientalis menunjukkan Nasr Hamid termasuk golongan Jaringan Anti Islam Internasional. Hal itu dinyatakan oleh Ketua MUI Pusat KH Kholil Ridwan kepada www.hidayatullah.com pagi ini. "Marahnya orientalis dan orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan dakwah Islam, itu menunjukkan adanya 'Jaringan Anti Islam Internasional'. Mereka selalu ingin menjauhkan umat Islam dari akar-akar aqidah Islam yang benar,"jelas Kiyai Kholil.

Nasr Hamid, yang merupakan tokoh dari Mesir itu, menurut Kiyai Kholil, dipakai juru bicara dari orientalis karena walaupun bagaimanapun Mesir itu telah berumur ribuan tahun sebagai kiblat pengetahuan Islam.

"Padahal ulama-ulama Mesir sendiri sudah menghukumi murtad kepadanya dan kemudian ia lari ke Leiden Belanda. Orientalis menampung Nasr Hamid bukan tanpa tujuan,"tegas Kiyai Kholil.

Lebih lanjut Ketua MUI ini menegaskan, kedatangan Nasr Hamid ini juga andil dari jamaah yang dibina Harun Nasution dan Mukti Ali dulu di Depag. Mereka membentuk jaringan tertentu di Depag-Leiden dan Nasr Hamid menjadi dosen atau 'pembinanya' di situ.

Langkah yang diambil MUI Riau dan MUI Malang itu adalah langkah minimal yang diambil. "Di Mesir aja dia sudah dihukum murtad oleh Mahkamah Syariiyyah dan dia lari dari negerinya. Ia mestinya dideportasi sejak sampai di Bandara Soekarno-Hatta," tegasnya.

Sedangkan menanggapi kecaman Gus Dur dan Nasr Hamid kepada Menteri Agama, Ustadz Kholil menegaskan bahwa justru Menteri Agama dalam hal ini melakukan langkah yang sangat tepat.

"Ini adalah jasa besar Menteri Agama dalam menyelamatkan aqidah umat Islam Indonesia dari pemurtadan,"jelasnya. Adanya kasus ini juga menunjukkan adanya pihak-pihak tertentu di Depag dan IAIN/UIN yang ingin memurtadkan umat Islam Indonesia, seperti disebutkan dalam bukunya Hartono Ahmad Jaiz 'Ada Pemurtadan di IAIN'.

Tentang alasan Nasr Hamid dan Gus Dur bahwa ada pihak-pihak yang membatasi kebebasan bicara, menurut ustadz Kholil hal itu adalah alasan yang mengada-ada.

"Di Indonesia ada ada pasal hukuman penjara bagi mereka yang melecehkan presiden. Apalagi ia telah melecehkan dan menghina Allah, Rasul dan Al-Qur'an." [nuim/www.hidayatullah.com]

Selasa, 27 November 2007

Uskup Agung Inggris: AS, Simbul Imprealis Terburuk di Dunia

London (armnews) - Situs Koran Times, terbitan London mengutip Kepala Gereja Anglikan, Canterbury yang menyatakan Amerika merupakan simbul imperialis terburuk dalam sejarah.


Uskup Agung Rowan Williams, Kepala Gereja Anglikan dari Canterbury menyatakan bahwa AS dengan menerapkan politik intervensi dan radikal di dunia merupakan simbul imperialis yang paling buruk dalam sejarah.

Menurut Situs Koran Times, terbitan London, Williams dalam wawancara dengan Koran Amal milik warga Muslim di Inggris mengkritik keras politik imprealisme AS, dengan mengatakan, "Negara ini menggunakan kekuatannya yang secara bertahap mencapai puncak politik imperialisme dan penjajahan, yang lebih parah dari penjajahan Inggris terhadap India.

"Dikatakan pula, hal ini merupakan asumsi yang salah, dengan berpikir bahwa kekerasan dapat menyelesaikan problema di sebuah negara dan melakukan apa saja di sana, lalu menantikan dukungan rakyat. Langkah ini merupakan kekeliruan yang dilakukan oleh AS di Iraq."

Lebih lanjut, Kepala Gereja Anglikan ini menuturkan, "Perilaku AS dan penyimpangan yang dilakukan negara ini dalam melaksanakan tugas yang digembar-gemborkan malah menimbulkan krisis dunia dan mengabaikan nilai-nilai moral."

Dalam kesempatan tersebut, Williams mengkritik masyarakat Barat dengan mengatakan, definisi kemanusiaan oleh Barat menghilangkan subtansi kemanusiaan yang sebenarnya. Modernisasi Barat telah kehilangan spiritnya.

Senin, 22 Oktober 2007

Islam dan Ideologi Transnasional

Oleh :

H Mashadi
Ketua Forum Umat Islam

Ada yang menarik untuk dicermati dari pidato salah seorang tokoh Muslim negeri ini saat memperingati 100 hari wafatnya KH Yusuf Hasyim 29 April 2007 yang lalu sebagai mana dilansir harian ini hari Senin 30 April 2007. Dalam pidatonya, tokoh tersebut tidak sungkan-sungkan mendesak pemerintah untuk mencegah masuknya ideologi transnasional ke Indonesia, baik ideologi transnasional dari Barat maupun dari Timur.

Tokoh yang sama juga menyatakan, bahwa Islam adalah agama, bukanlah ideologi. Masih menurut dia, yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah akibat dari Islam sebagai ideologi, bukan sebagai agama. Benarkah demikian? Bisakah Islam dipisahkan sebagai agama dan ideologi? Lalu di manakah posisi Ikhwanul Muslimin, Majelis Mujahidin, Alqaidah yang beliau kategorikan sebagai ideologi Islam di Timur Tengah dan bukan Islam dengan alasan Islam sebagai agama bukan gerakan kepentingan apalagi politis?

Islam, agama, dan ideologi
Islam, menurut Imam Akbar Mahmud Syaltut, dalam kitabnya Al Islam 'Aqidatan wa Syari'atan (1966: 9-11) adalah dinullah yang seluruh ajarannya, baik akidah maupun syariatnya, telah disampaikan kepada Nabi SAW. Dari Alquran, kita tahu bahwa Islam mempunyai dua bagian pokok, di mana faktanya tidak akan pernah ada, dan maknanya juga tidak akan terealisasi, kecuali jika kedua bagian tersebut ada dan diwujudkan. Dua bagian itu tak lain adalah akidah dan syariat.

Ibarat bangunan, akidah adalah pondasi, sementara syariat adalah konstruksi dari seluruh bangunan yang dibangun di atasnya yang mengandung berbagai unsur bangunan seperti ibadah, muamalah, akhlak, ukhuwah Islamiyyah dan kelengkapannya. Sebagai pondasi, akidah memang tidak tampak di permukaan. Ini berbeda dengan syariat, karena akidah adalah aktivitas kalbu, sementara syariat adalah aktivitas fisik. Meski demikian, dua-duanya tidak dapat dipisahkan. Inilah Islam.

Islam adalah din yang lengkap dan sempurna (QS 05: 03). Sebagai din, Islam bukan hanya membahas masalah keakhiratan, tapi Islam juga membahas berbagai masalah keduniaan, seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial-kemasyarakatan, politik luar negeri dan sebagainya, yang lazimnya menjadi wilayah ideologi. Karena itu, bisa disimpulkan, bahwa Islam adalah agama sekaligus ideologi.

Kita memang sering dirancukan dengan istilah ideologi, sebagai kerangka filosofis yang dihasilkan oleh manusia, seperti kapitalisme dan sosialisme. Sedemikian, sehingga Islam, menurut logika ini, bukan merupakan ideologi, melainkan agama. Alasannya, karena ideologi adalah kerangka filosofis yang dihasilkan oleh akal manusia, sementara Islam tidak. Padahal, konteks pembahasannya adalah sumber ideologi, bukan apa ideologi itu sendiri? Ini adalah dua fakta yang berbeda. Karena itu, dalam konteks sumber ideologi, bisa disimpulkan ada dua kategori ideologi, yaitu ideologi yang bersumber dari akal manusia, dan ideologi yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Dari sini, bisa disimpulkan, bahwa Islam adalah ideologi yang bersumber dari wahyu Allah, yang jelas berbeda dengan kapitalisme maupun komunisme.

Agama dan ideologi transnasional
Istilah transnasional sering digunakan dengan merujuk pada penggunaan istilah kejahatan transnasional, dengan konotasi lintas batas negara. Jika ada agama dan ideologi yang disebut sebagai agama dan ideologi transnasional, itu adalah Islam. Kalau Islam bukan agama transnasional, maka tidak ada ibadah yang dilakukan lintasnegara, seperti haji, umrah dan jihad. Kalau Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum Muslim di Indonesia berbeda dengan kaum Muslim di Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan sebagainya. Namun, justru karena shalat, puasa, zakat dan hajinya sama, maka semuanya ini membuktikan, bahwa Islam adalah agama transnasional.

Demikian halnya dengan Islam sebagai idoelogi. Persatuan umat Islam di seluruh dunia selama 14 abad dalam satu kebudayaan dan negara adalah bukti, bahwa Islam juga merupakan ideologi transnasional. Seperti kata Will Durant (1885-1981), "Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan sampai Maroko dan Spanyol. Islam juga telah menguasai cita-cita mereka, mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupannya dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan masalah maupun duka mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh kepadanya pada saat ini (era Will Durant) sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat dan latar belakang politik di antara mereka." (Will Durant, The History of Civilization, vol XIII).

Nah, dalam konteks agama dan ideologi transnasional ini, posisi Islam sama dengan Kristen dan Yahudi di satu sisi, dan dengan kapitalisme maupun sosialisme di sisi lain. Bedanya, jika Kristen dan Yahudi adalah agama transnasional, sama dengan Islam. Namun, kedua agama yang aslinya diturunkan kepada Bani Israil itu sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai ideologi secara hakiki. Sebab, ideologi hakiki adalah sekumpulan keyakinan yang menghasilkan sistem peraturan kehidupan, seperti sistem ekonomi, sistem sosial, sistem politik, dan lain-lain. Kedua agama Bani Israil itu hanya memuat sekumpulan keyakinan, ibadah ritual, dan budi pekerti. Para penganut mereka tunduk dalam sistem ideologi apapun yang diberlakukan, baik itu sistem sosialis, kapitalis maupun Islam. Sedangkan di dalam Islam, peraturan tentang bebagai sistem kehidupan tersebut secara sempurna dan menyeluruh telah tersusun secara sistematis di dalam syariat Islam yang kaffah.

Berkaitan dengan ajaran ideologi kapitalisme maupun sosialisme, keduanya adalah ideologi transnasional, sama dengan Islam. Bedanya, kapitalisme maupun sosialisme bukanlah agama, dan tidak akan pernah bisa menjadi agama. Dengan demikian, satu-satunya agama dan sekaligus ideologi transnasional yang utuh adalah Islam.

Pertanyaannya adalah, ideologi transnasional manakah yang dimaksud oleh tokoh tersebut, sedemikian gawatnya, sehingga dia memprovokasi pemerintah untuk mencegahnya. Jika yang dimaksud adalah sosialisme (komunisme), tentu kita setuju. Karena secara generik bertentangan dengan akal dan fitrah manusia, dan telah terbukti gagal. Demikian halnya, jika yang dimaksud adalah adalah kapitalisme, kita pun setuju. Namun, jika yang dimaksud itu adalah Islam, maka mencegah masuknya ideologi Islam transnasional jelas tidak mungkin.

Adapun posisi Ikhwanul Muslimin, Alqaidah, dan Majelis Mujahidin menurut hemat penulis bukanlah ideologi tetapi organisasi yang berideologi Islam. Posisi organisasi-organisasi tersebut kiranya sama dengan NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah, HMI, PII, dan lain-lain di Indonesia sebagai organisasi-organisasi yang berideologi Islam. Tentu saja pemerintah tidak bisa melarang organisasi-organisasi dakwah dan gerakan Islam tersebut karena ideologi Islam yang mendasari pikiran dan gerakannya.

Ikhtisar
- Selain menjadi agama, Islam juga telah menjadi ideologi yang menyebar secara transnasional.
- Posisi Islam sebagai agama dan sebagai ideologi tidak bisa dipisahkan.
- Keinginan untuk melarang masuknya ideologi transnasional harus diuraikan lebih tegas.

sumber: http://www.hidayatullah.com/